MULTIPLE INTELLIGENCES
A.
Pengertian Multiple
Intelligences
Multiple intelligences berasal dari dua suku
kata,multiple dan intelligences multiple berarti ganda atau majemuk,
intelligences berarti kecerdasan.
Multiple
intelligences adalah istilah tentang ilmu kecerdasan yang memiliki arti
kecerdasan jamak atau ganda. Teori ini di temukan dan dikembangkan oleh Prof. Howard Gardner seorang psikolog dari Harvad University, Amerika Serikat. Didalam teorinya ia
menjelaskan bahwa setiap orang memiliki bermacam-macam kecerdasan,namun
dengan kadar pengembangan yang berbeda antara kecerdasan yang satu dengan
kecerdasan yang lainnya. Gardner mengungkapkan bahwa tidak ada anak bodoh atau
pintar. Yang ada, anak yang menonjol dalam salah satu jenis kecerdasan. Dengan
demikian, dalam menilai dan menstimulasi kecerdasan anak, orang tua dan
pendidik selayaknya cermat merancang sebuah metode khusus.
Pengertian kecerdasan menurut Gardner adalah suatu kemampuan untuk
memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai
budaya atau suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuh
kembangkan. Lalu multiple intelligences adalah kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu lebih
dari satu macam.
B.
Macam-macamMultiple
Intelligences
Seorang psikolog bernama Howard Gardner mengemukakan atau membagi kecerdasan majemuk/jamak/multiple menjadi 8 kecerdasan, yaitu kecerdasan
verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan
musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik,
dan kecerdasan jasmaniah-kinestetik.
Lalu, Walter
McKenzie dalam bukunya Multiple Intellegences and Intrutional Technology, telah
memasukan kecerdasan eksistensial/spiritual sebagai salah satu kecerdasan majemuk/jamak/multiple.
McKenzie
menggunakan roda domain kecerdasan jamak, hal tersebut dimaksudkan untuk
menyelaraskan kecerdasan dengan siswa yang ada kemudian diamati guru secara
rutin didalam ruang kelas. 3 domain tersebut yaitu sebagai berikut :
1.
Domain
interaktif, diperoleh melalui proses sosial yang terbangun secara alamiah. Domain ini terdiri atas kecerdasan
verbal, interpersonal, dan kinestetik.
2.
Domain analitik,
terdiri atas kecerdasan musik, matematika-logis, dan naturalistik, yang digunakan
oleh siswa dalam menganalisis data dan pengetahuan.
3.
Domain
introspektif, terdiri atas kecerdasan eksistensial/spiritual, intrapersonal,
dan visual-spasial. Ketiga kecerdasan tersebut diklasifikasikan kedalam domain
ini karena memerlukan keterlibatananak untuk melihat sesuatu lebih dalam, bukan
hanya sekedar memandang melainkan harus mampu membuat hubungan emosioanal
antara yang mereka pelajari dengan pengalaman sebelumnya. Selain itu,anak juga
harus meyakini bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam pembelajaran baru.
Berikut merupakan
pembagian kecerdasan menurut Howard Gardner dan ditambah satu kecerdasan
menurut Walter McKenzie, yaitu :
1.
Kecerdasan
Verbal-Linguistik
Kecerdasan Verbal-Linguistik merupakan kemampuan untuk berbahasa
untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya dan memahami orang lain.
Dikatakan verbal karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara
lisan dan tertulis.
Seorang anak yang memiliki kecerdasan bahasa yang tinggi akan mampu
dengan lancar menceritakan apa yang ia alami, menceritakan sebuah cerita dan
adegan lelucon, menulis lebih baik dari rata-rata anak seumurannya, memiliki
memori ataupun informasi lebih baik dari anak pada umumnya seperti tentang nama, tempat, tanggal, dan
sebagainya.
Disamping itu anak yang memiliki kecerdasan bahasa selalu berusaha
untuk meningkatkan penggunaan bahasa,sukamembaca, menulis, berdiskusi,
menginterpretasikan dan menjelaskan. Ada banyak lagi kelebihan bila seorang
anak memiliki kecerdasan verbal-linguistik. Untuk karier anak kelak yang
memiliki kecerdasan bahasa dapat digambarkan ia akan menjadi seorang jurnalis,
novelis, pengacara, pelatih, guru, dan lain sebagainya. Namun, semua itu tidak
terlepas dari kehendak Allah swt dan usaha dari orang tua serta pendidikan
dalam menstimulasi kecerdasannya tersebut.
2.
Kecerdasan
Logis-Matematis
Kecerdasan matematis adalah kemampuan untuk mengekplorasi
pola-pola, kategori-ketegori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau simbol
untuk melakukan percobaan dengan cara yang terkontrol dan teratur. Kecerdasan
matematis disebut logis dan penalaran karena merupakan dasar dalam memecahkan
masalah menggunakan sebuah pemikiran atau dapat memanipulasi bilangan.
Anak-anak yang memiliki kecerdasan ini sangat menyukai dengan
permainan bilangan atau menghitung, menyukai permainan matematika, suka
teka-teki, suka mengumpulkan dan mengklasifikasikan sesuatu, suka melakukan percobaan
dengan cara yang logis, serta masih banyak lagi.
Anak yang memiliki kecerdasan ini akan terarah pada seseorang yang
memiliki keahlian dalam bidang matematika, sains, ilmuwan, arsitek, insinyur,
akuntan, dan lain sebagainya. Karier tersebut akan lebih optimal bila terus
distimulasi.
3.
Kecerdasan
Visual-Spasial
Kecerdasan ini sering dikaitkan dengan kecerdasan atau bakat dalam
hal seni, khususnya seni lukis dan arsitektur. Kemampuan berpikir
visual-spasial merupakan kemampuan berpikir dalam bentuk visualisasi, gambar,
dan bentuk 3 dimensi. Ada 3 kunci dalam
mendefinisikan kecerdasan ini, yaitu :
a.
Mempersepsi,
yaitu menangkap dan memahami sesuatu melalui panca indra,
b.
Visual-spasial
terkait dengan kemampuan mata, khususnya warna dan ruang,
c.
Mentransformasikan,
yaitu mengalihbentukan hal yang ditangkap mata kedalam bentuk wujud lain,
misalnya anak melihat, merekam, mencermati,
lalu yang dia tangkap itu dituangkan dalam bentuk lukisan, sketsa, lukisan,
atau yang lainnya.
Komponen inti dari
kecerdasan ini adalah kepekaan terhadap garis, warna, bentuk, dan keseimbangan.
Komponen inti kecerdasan ini benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan
ketelitian pengamatan. Komponen lain dari kecerdasan ini yaitu kemampuan
membayangkan dan mengorientasikan atau menggambarkannyadengan tepat.Karier dari
anak yang memiliki kecerdasan ini bisa diarahkan menjadi pelukis, photographer,
arsitek, dokter bedah, pemahat profesional, dan lain sebagainya.
4.
Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik
Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik merupakan kemampuan untuk
menggunakan seluruhtubuh dalam mengekspresikan perasaan dan menggunakan tangan
untuk menghasilkan ataumentransformasikan sesuatu. Komponen utama dari
kecerdasan ini adalah kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik seperti
koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan,kelenturan, kecepatan,
kemampuan untuk menerima dan merangsang hal yang berkaitan dengan sentuhan.
Kecerdasan kinestetik disebut juga dengan kecerdasan olah tubuh
karena dapat merangsang kemampuan seseorang untuk mengolah tubuh secara ahli,
atau untukmengekspresikan emosi melalui gerakan. Kemampuan seperti ini dapat
diamati pada anak yang banyak bergerak, seperti anak yang pandai berolahraga,
menari, ataupun cekatan dalam
menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Dengan demikian, gambaran karier seorang
anak yang pintar dalam kecerdasan kinestetik ini adalah menjadi seorang penari,
atlet, pelatih, aktor, atau lain sebagainya. Namun, semua itu tidak
terlepasdari stimulus yang diberikan pada diri anak.
5.
Kecerdasan
Musikal
Kecerdasan
Musikal didefinisikan sebagai kemampuan menangani bentuk musik yaitu meliputi :
a.
Menangkap atau
menikmati musik dan bunyi-bunyi yang bernada,
b.
Membedakan dan
membandingkan ciri bunyi musik, suara dan alat musik,
c.
Mengubah bentuk
musik, seperti menciptakan dan memversikan musik,
d.
Mengekspresikan
bentuk musik seperti bernyanyi,bersenandung, ataupun bersiul-siul.
Anak-anak yang
memiliki kecerdasan ini akan mempunyai sensitivitas untuk mendengarkan
senandung musik, pola-pola musik, dapat dengan mudah mengingat melodi dan
menyanyikannya, memberi respon secara emosional pada musik yang mereka
dengarkan. Anak yang memiliki kecerdasan ini akan mengarah pada karier menjadi
seorang musisi, pencipta lagu, konduktor, dan lain sebagainya.
6.
Kecerdasan
Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan
bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Komponen inti dari kecerdasan ini
adalah kemampuan memahami diri yang akurat meliputi kekuatan dan keterbatasan
diri, kecerdasan akan sesuai dengan suasana hati,maksud, motivasi, tempramen
dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahamidan menghargai diri.
Kemampuan menghargai diri juga berati mengetahui siapadirinya, apa yang dapat
dan ingin dilakukan,bagaimana reaksi diri terhadap situasi tertentu,
danmenyikapinya, serta kemampuan mengarahkan dan mengintropeksi diri. Kecerdasan
intrapersonalmerupakan kecerdasan dunia batin, kecerdasan yang bersumber pada
pemahaman diri seara menyeluruh guna menghadapi, merencakan, dan memecahkan
berbagai persoalan yang dihadapi.
Kecerdasan ini merujuk pada pemahaman terhadap diri sendiri dalam
menentukan minat dan tujuan ketika melakukan perbuatan. Anak yang lebih
menonjol kecerdasan interpersonalnya dapat menjadi ahli terapi, penyair,
motivator, psikolog, filsuf, pemimpin spiritual, dan semacamnya jika mendapat
bimbingan dan pendidikan yang layak.
7.
Kecerdasan
Interpersonal
Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan memahami pikiran, sikap,
dan perilaku orang lain. Kecerdasanini merupakan kecerdasan dengan
indikator-indikator yang menyenangkan bagi orang lain.
Komponen inti kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mencerna
dan menanggapi dengan tepat berbagai suasana hati, maksud, motivasi, perasaan,
dan keinginan orang lain disamping kemampuan untuk melakukan kerjasama. Mereka
memiliki kecerdasan ini sangat memerhatikan orang lain, memiliki kepekaan yang
tinggi terhadap ekspresi wajah, suara dan gerak isyarat. Dengan kata lain,
kecerdasan ini melibatkan banyak kecakapan, yakni kemampuan berempati pada
orang lain, kemampuan mengorganisasi sekelompok orang menuju sesuatu tujuan
bersama, kemampuan mengenai dan membaca pikiran orang lain, kemampuan berteman
atau menjalin kontak.
8.
Kecerdasan
Naturalistik
Kecerdasan Naturalistik adalah kemampuan dalam melakukan
kategorisasi dan membuat hierarki terhadap keadaan organisme seperti
tumbuh-tumbuhan, binatang dan alam. Salah satu ciri-ciri yang ada pada anak
yang kuat dalam kecerdasan naturalistik adalah kesenangan mereka pada alam,
binatang, misalnya berani mendekati, memegang, mengelus, bahkan memiliki naluri
untuk memelihara. Kecerdasan naturalistic didefinisikan sebagai keahlian
mengenali dan mengategorikan spesies, baik flora maupun fauna, dilingkungan
sekitar, kemampuannya mengolah dan memanfatkan alam, serta melestarikannya.
Komponen inti dari kecerdasan ini adalah kepekaan terhadap alam
(flora, fauna, formasi awan, gunung-gunung). Anak-anak yang memiliki kecerdasan
ini cenderung menyukai alam terbuka, akrab dengan hewan peliharaan, dan bahkan
menghabiskan waktu mereka didekat aquarium. Mereka mempunyai keingintahuan yang
besartentang seluk beluk hewan dan tumbuhan. Pengembangan karier yang sesuai
bagi anak yang memiliki kecerdasan naturalistik dapat diarahkan untuk menjadi
ilmuan pertanian, ahli geologi, ahli biologi, astronot, ahli perikanan dan
kelautan, nahkoda kapal, pelaut, aktivis alam, pendaki gunung, dan lain
sebagainya.
9.
Kecerdasan
Eksistensial-Spiritual
Diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dibandingkan
dengan berbagai jenis kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual emosional
dan kecerdasan sosial. Kecerdasan spiritual itu berdasarkan padahati dan
terilhami sehinggajikaseorang memiliki kecerdasan spiritual, maka segala
sesuatu yangdilakukan akan berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan.
Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berati roh. Kata ini
berasal dari bahasa latin, spiritus yang berati nafas. Roh bisa diartikan
sebagai energi kehidupan yang membuat manusia dapat hidup, bernafas dan
bergerak. Spiritual beratipula segala sesuatu diluar fisik, termasuk pikiran,
perasaan, dan karakter atau dikenal dengan kodrat. Berdasarkan definisi yang
telah diberikan diatas, yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual dalam tulisan
ini adalah kapasitas hidup manusia yang bersumber dari hati yang dalam. Hal ini
mencakup:
a.
Kesadaran
terhadap hakekat dan eksistensi diri mendorong hadirnya pandangan luas terhadap
dunia.
b.
Toleran yang
merujuk pada kesadaran terhadap eksistensidiri akan membawa dampak yang
berharga bagi munculnya keinginan untuk
mengaku keadaan yang lain. Disinilah muncul
sikap toleransi terhadap orang
lain.
c.
Kebenaran
adalah persesuain antara pengetahuan dan objeknya.
d.
Kebermaknaanyang
berujuk pada sesuatu yang dapat bermakna bila dapat memberi nilai tambah dan
memiliki gagasan yang segar, rasa humor yang dewasa.
e.
Penyerahan diri
yang sepenuhnya kepada suatu kekuatan yang dapat mengatur seluruh alam dan
seisinya.
f.
Kedamaian,
suatukondisi jiwa yang merasa tenang nyaman dan aman.
C.
Cara
Mengembangkan Multiple Intelligences
1.
Kecerdasan
Verbal-Linguistik
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a.
Berdialog atau berdiskusi,
b.
Membacakan
cerita,
c.
Merangkai
cerita,
d.
Bermain
kartu huruf atau kata,
e.
Memutar
film drama atau detektif lalu menuliskannya dalam bahasanya sendiri atau
menceritakan apa yang diperkirakan akan terjadi pada cerita selanjutnya.
2.
Kecerdasan
Logis-Matematis
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a.
Bermain puzzel, dapat
juga dengan permainan lain seperti ular tangga,
b.
Bermain dengan
bentuk-bentuk geometri, dapat dimulai sejak usia bayi dengan menggantung berbagai
bentuk geometri warna-warni,
c.
Pengenalan bilangan
melalui nyanyian, tepuk, dan sajak berirama,
d.
Eksperimen sederhana
misalnya bermain mencampur warna atau bermain menuang air ke berbagai wadah
dengan bermacam bentuk.
3.
Kecerdasan
Visual-Spasial
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a.
Mengajak
anak melukis, menggambar atau mewarnai,
b.
Memberikan
kesempatan anak untuk mencorat-coret, biasanya dimulai sejak anak umur 18
bulan,
c.
Membuat
prakarya, misalnya berbagai lipatan kertas yang akan melatih visual spatial
anak. Kegiatan ini juga akan membangun kepercayaan diri anak,
d.
Mengunjungi
berbagai tempat untuk memperkaya pengalamannya kemudian meminta anak
menggambarkan apa saja yang sudah dilihatnya, misalnya ke kebun binatang atau
museum.
4.
Kecerdasan
Jasmaniah-Kinestetik
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a. Mengajak anak menari bersama,
b. Berolah raga,
c. Bermain pantomim,
d. Bermain menempel, menggunting, dan berbagai kegiatan keterampilan lainnya
disesuaikan dengan usia.
5.
Kecerdasan
Musikal
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a. Karya wisata musik, misalnya ke stasiun radio/televsisi/PH, studio rekaman,
b. Mengajak anak bermain musik, baik alat musik sungguhan maupun alat musik
buatan sendiri (misalnya dari kaleng bekas ditutup kertas semen, konser musik
dapur, dsb),
c. Menirukan berbagai nada, memperdengarkan musik, dan mengajak anak bernyanyi
sendiri atau bersama-sama.
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a. Bercakap-cakap tentang cita-cita setelah mengukur tinggi dan berat badan,
b. Bercakap-cakap tentang kekurangan dan kelebihan diri dalam suasana santai, Bermain peran tentang
berbagai profesi,
c. Mengajak anak berimajinasi menjadi tokoh sebuah cerita dalam buku.
7.
Kecerdasan
Interpersonal
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a.
Mengajak
anak berkunjung kerumah saudara atau tetangga,
b.
Menumbuhkan
sikap ramah dan peduli pada sesama, misalnya berkunjung ke panti asuhan atau
rumah sakit, memberikan bingkisan sederhana kepada anak jalanan,
c.
Melatih
anak mengucapkan terima kasih, minta tolong atau minat maaf,
d.
Melatih kesabaran
menunggu giliran.
8.
Kecerdasan
Naturalistik
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a. Karya wisata alam, misalnya berjalan-jalan di alam
terbuka,
b. Memelihara hewan,
c. Menanam pohon di halaman rumah,
d. Memahamkan tentang pentingnya menghemat air dan
membuang sampah pada tempatnya.
9.
Kecerdasan
Eksistensial-Spiritual
Kecerdasan ini dapat dikembangkan atau distimulasi melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut :
a.
Menanamkan nilai-nilai agama,mengajarkan
sholat,mengenalkan apa-apa saja yang di perbolehkan dan dilarang,
b.
Menyediakan buku-buku yang bernafaskan agama, mengenalkan tokoh-tokoh agama.
Referensi
Yaumi Muhammad, Pembelajaran
Berbasis Multiple Intelligences, Jakarta: Dian Rakyat,
2012.
Yudrik Jahja, Psikologi
Perkembangan, Jakarta, Kencana, 2011.
[1]Dr.
Muhammad Yaumi, M.Hum., M.A, Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, (Jakarta: Dian Rakyat,
2012), h. 12-26