Jumat, 26 Oktober 2018

KONSEP PENGEMBANGAN KREATIVITAS AUD



Konsep Pengembangan Kreativitas AUD

1.      Pengertian Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam penelitian psikologi masa kini dan sering digunakan dengan bebas dikalangan orang awam. Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kreativitas diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan atau daya cipta. Arti kreativitas dimaknai sebagai kemampuan seseorang atau individu dalam meciptakan atau menghasilkan kreasi baru, menemukan cara baru dalam melakukan sesuatu agar lebih mudah, efesien dan efektif.
Model pengembangan kreativitas dalam Munandar (1999), yaitu :
Pengembangan kreativitas dari aspek process adalah dalam mengembangkan kreativitas anak, ia perlu diberi kesempatan untuk bersibuk secara aktif.
Pengembangan kreativitas dari aspek product adalah kondisi yang memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif  yang bermakna adalah kondisi pribadi dan lingkungn yaitu sejauh mana keduanya mendorong seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan dan kegiatan) kreatif.
Pengembangan kreativitas dari aspek press adalah bahwa untuk mewujudkan bakat kreatif anak, diperlukan dorongan dan dukungan dari lingkungan (motivasi eksternal) yang berupa apresiasi, dukungan, pemberian penghargaan, pujian, dan dorongan dari anak sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu.
2.      Hakikat Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu potensi yang di miliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Setiap anak memiliki bakat kreatif yang dapat dikembangkan sejak usia dini. Bakat kreatif anak yang tidak dikembangkan sejak dini maka bakat tersebut tidak berkembang secara optimal. Oleh sebab itu, diperlukan upaya pendidikan yang dapat mengembangan kreativitas anak.
Hasil penelitian Samples (1997) menyimpulkan bahwa proses dan fungsi belahan otak kanan ditingkatkan maka kualitas diri seseorang meningkat, seperti sebagai keterampilan kinerja pun bertambang dan peserta didik memperlihatkan kecenderungan  mengeksplorasi materi berbagai bidang dengan lebih mendalam.
Menurut Erikson dalam Mulyani Sumantri (2004:275) anak usia dini 3-5 tahun atau anak prasekolah berada dalam fase inisiatif lawan rasa bersalah (initiative versus guilt). Anak yang mendapat kesempatan untuk mewujudkan berbagai inisiatif yang dipikirkan akan berkembang jadi anak yang percaya diri. Sebaliknya, anak yang tidak mendapat kesempatan untuk melakukan hal tersebut akan menjadi anak yang selalu merasa bersalah yang selanjutnya akan berkembang menjadi anak yang kurang percaya diri (minder).
Keberhasilan kreativitas menurut Ambile dalam Munandar (2004:77), terletak dalam aspek irisan (insersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berfikir dan bekerja kreatif, serta motivasi interinsik yang disebut sebagai motivasi batin. Motivasi interinsik adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri anak, berbeda dengan motivasi ekstrinsik yang ditimbulkan dari luar yaitu dari lingkungan.
3.      Ciri-Ciri Kreativitas
Bacrudin Musthafa (2008: 78), terdapat beberapa ciri yang melekat pada makna krativitas itu sendiri yaitu krativitas itu meruapakan bentuk pemecahan masalah; krativitas itu merupakan gagasan yang orisinil; kreativitas tidak terbatas pada satu kajian saja; krativitas harus didukung oleh suasana yang kondusif untuk munculnya kreativitas yang baru.
Sementara itu Dedi Supriadi (1994: 7) terdapat lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif, yaitu sebagai berikut :
a.       Kelancaran (fluency), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan atau ide.
b.      Keluwesan (flexsible), yaitu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemnecahan atau pendekatan terhadap masalah.
c.       Keaslian (originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli.
d.      Penguraian (elaboration), yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci.
e.       Perumusan kembali (redefinition), yaitu kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan prespektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui dengan orang lain.
Adapun ciri-ciri aptitude dan non-aptitude sebagaimana yang disajikan oleh Nurlaili sebagai berikut :
1.)    Ciri-Ciri Kemampuan Berfikir Kreatif (aptitude)
1)      Keterampilan berfikir kreatif, yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, atau pertanyaan. Keterampilan berfikir lancara itu sendiri ditandai dengan hal-hal sebagai berikut :
(a.)     Mengajukan banyak pertanyaan.
(b.)    Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
(c.)     Mempunya banyak gagasan mengenai suatu masalah.
(d.)    Mengungkapkan gagas-gagasan nya.
2)      Keterampilan Berfikir Lues (fleksible)
Yaitu menghasilkan gagasan-gasan, jawaban, atau pertanyaan yang berfariasi sehingga dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3)      Keterampilan Berfikir Orisinal
Yaitu mempu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, dan mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4)      Keterampilan Memerinci (mengelaborasi)
Yaitu mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk dan menambahkan atau memerinci detail-detail dari suatu objek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
5)      Menilai (mengevaluasi)
Yaitu menentukan ukuran penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat atau suatu tindakan bijaksana sehingga mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka dan tidak hanya mencetuskan gagasan, tetapi juga melaksanakannya.
2.)    Ciri-Ciri Afektif (non-aptitude)
a)      Rasa Ingin Tahu
Yaitu selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak sesuatu dengan cara mengajukan banyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang, objek, dan situasi, serta peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui/meneliti.
b)      Bersifat Imajinatif
Yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi dan mengguakan hayalan, tetapi mengetahua perbedaan antara hayalan dan kenyataan. Merasa Tertantang oleh KemajemukanYaitu terdoromg untuk mengatasi masalah yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit, dan lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit.
c)      Sifat Berani Mengambil Resiko
Berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar, tidak takut gagal/mendapat kritik, dan tidak menjadi ragu-ragu karena ketidak jelasan, hal-hal yang tidak konvensional, atau yang kurang berstruktur.
d)     Sifat Menghargai
Yaitu dapat menghargai bimbingan, mengarah dalam hidup, dan menghargai kemampuan serta bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.
4.      Strategi Pengembangan Kreativitas
 Pengembangan kreativitas anak di Taman Kanak-Kanak (TK) perlu dikemas dengan strategi tertentu yang dapat mendorong munculnya kreativitas anak. Untuk mengembangkan kreativitas anak salah satu model yang dapat digunakan adalah model Treffinger. Model Treffinger  merupakan salah satu model yang mengenai masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Dengan melibatkan, baik keterampilan kognif maupun keterampilan afektif pada setiap tingkatnya. Model traffinger mununjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar kreatif.
Adapun langkah-langkah dalam model treffinger adalah Basic dan tools (teknik kretivitas tingkat I), Practice with proces (tingkat kreativitas tingkat II), dan Working with Real problems (teknik kreativitas tingkat III).
5.      Pengukuran Kreativitas
Menurut Dedi Supriadi (2001:4), ada lima macam pendekatan dalam menilai kreativitas, yaitu analisis objektif terhadap produk kreatif, pertimbangan subjektif, inventori kepribadian, inventori biografis, dan tes kreativitas. Pertama analisis objektif, pendekatan analisis objektif adalah pendekatan yang bermaksud untuk menilai secara langsung kreativitas suatu produk berupa benda atau karya-karya kreatif lain yang dapat di observasi wujud fisiknya. Kedua pertimbangan subjektif, pendekatan pertimbangan subjektif dalam menilai kreativitas di arahkan kepada orang atau produk kreatif. Dalam pendekatan ini, teknik yang digunakan sangat tergantung pada pertimbangan subjektif orang yang menilai. Ketiga inventori kepribadian, inventori kepribadian di tunjukan untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan kepribadian kreatif seseorang yang berhubungan dengan kreativitas yang meliputi sikap, motivasi, minat, gaya berfikir, dan kebiasaan-kebiasaan dalam berprilaku. Keempat inventori biografis, inventori biografis digunakan untuk mengungkapkan berbagai aspek kehidupan orang-orang kreatif yang meliputi identitas pribadi, lingkungan, pengalaman hidupnya. Kelima tes kreativitas banyak digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang kreatif yang ditunjukan oleh kemampuannya dalam berfikir kreatif.
6.      Faktor Pendukung Kreativitas
Faktor-Faktor yang dapat mendukung atau mendorong munculnya kreativitas tersebut adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Namun yang tidak kalah penting adalah adanya kebebasan dan keamanan psikologis dalam diri anak untuk mengembangankan kondisi bagi perkembangan krativitas.

Faktor-Faktor pendorong yang dapat meningkat kreativitas anak menurut Hurlock tersebut ialah:
a.       Waktu
b.      Kesempatan menyendiri
c.       Dorongan terlepas dari seberapa jauh pretasi anak memenuhi standar orang dewasa
d.      Sarana untuk bermain yang dapat merangsang kreativitas anak
e.       Lingkungan yang merangsang
f.       Hubungan anak dan orang tua yang tidak posesif
g.      Cara mendidik anak
h.      Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa kreativitas anak akan berkembang jika orang tua dan guru bersikap demokratik. Dengan prilaku yang mau mendengarkan dan menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani, mengungkapkan pendapat dan tidak memotong pembicaraan anak ketika anak ingin mengungkapkan pikirannya.
7.      Faktor Penghambat Kreativitas
Amabile dalam Utami Munandar (2004:223) mengemukakan bahwa ada empat hal yang mesti di hindari dalam mengembangkan kreativitas anak, yaitu: evaluasi, Hadiah, persaingan, dan lingkungan yang membatasi.
Begitu juga Torance dalam Adipura (2001:46), menjelaskan bahwa hal-hal yang dapat menghambat kreativitas anak ialah:
a.       Pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak
b.      Terlalu menekankan peran berdasarkan seksual
c.       Terlalu banyak melarang
d.      Takut dan malu
e.       Penekanan yang salah kaprah terhadap penampilan
f.       Memberikan kritik bersifat mengejek

Dengan menghambat kreativitas anak menurut Utami Munandar (2004:95),  mengemukakan bahwa sikap orang tua seringkali banyak bertolak belakang dengan upaya mengembangkan kreativitas anak. Alih-alih merasa sayang dan untuk memberikan perhatian lebih pada anak malah berubah hasil negatif, yang menghambat kreativitas anak itu sendiri, hal-hal tersebut:
1.      Mengatakan kepada anak bahwa akan dihukum juka berbuat salah.
2.      Tidak memperbolehkan anak menjadi marah terhadap orang tuanya
3.      Tidak memperbolehkan anak mempertanyakan terhadap keputusan orang tua
4.      Anak tidak boleh berisik
5.      Orang tua tetap mengawasi anak
6.      Orang tua memberi sasaran spesifik tentang penyelesaian tugas
7.      Orang tua kritis kepada anak dan menolak gagasan anak
8.      Orang tua tidak sabar kepada anak
9.      Orang tua dan anak adu kekuasaan
10.  Orang tua tidak memperbolehkan anak bermain dengan anak keluarga yang mempunyai pandangan yang nilai berbeda
11.  Orang tua menekan dam memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.

Referensi
Susanto Ahmad, “Pendidikan Anak Usia Dini”, Jakarta: Bumi Aksara, 2017.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar