Konsep Pengembangan Kreativitas AUD
1.
Pengertian
Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu istilah
yang sering digunakan dalam penelitian psikologi masa kini dan sering digunakan
dengan bebas dikalangan orang awam. Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), kreativitas diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan
atau daya cipta. Arti kreativitas dimaknai sebagai kemampuan seseorang atau
individu dalam meciptakan atau menghasilkan kreasi baru, menemukan cara baru dalam
melakukan sesuatu agar lebih mudah, efesien dan efektif.
Model pengembangan kreativitas dalam
Munandar (1999), yaitu :
Pengembangan
kreativitas dari aspek process adalah
dalam mengembangkan kreativitas anak, ia perlu diberi kesempatan untuk bersibuk
secara aktif.
Pengembangan kreativitas dari aspek product adalah kondisi yang memungkinkan
seseorang menciptakan produk kreatif
yang bermakna adalah kondisi pribadi dan lingkungn yaitu sejauh mana
keduanya mendorong seseorang untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan
dan kegiatan) kreatif.
Pengembangan kreativitas dari aspek press adalah bahwa untuk mewujudkan
bakat kreatif anak, diperlukan dorongan dan dukungan dari lingkungan (motivasi
eksternal) yang berupa apresiasi, dukungan, pemberian penghargaan, pujian, dan
dorongan dari anak sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu.
2.
Hakikat
Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu
potensi yang di miliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Setiap
anak memiliki bakat kreatif yang dapat dikembangkan sejak usia dini. Bakat
kreatif anak yang tidak dikembangkan sejak dini maka bakat tersebut tidak
berkembang secara optimal. Oleh sebab itu, diperlukan upaya pendidikan yang
dapat mengembangan kreativitas anak.
Hasil penelitian Samples (1997)
menyimpulkan bahwa proses dan fungsi belahan otak kanan ditingkatkan maka kualitas
diri seseorang meningkat, seperti sebagai keterampilan kinerja pun bertambang
dan peserta didik memperlihatkan kecenderungan
mengeksplorasi materi berbagai bidang dengan lebih mendalam.
Menurut Erikson dalam Mulyani
Sumantri (2004:275) anak usia dini 3-5 tahun atau anak prasekolah berada dalam
fase inisiatif lawan rasa bersalah (initiative versus guilt). Anak yang
mendapat kesempatan untuk mewujudkan berbagai inisiatif yang dipikirkan akan
berkembang jadi anak yang percaya diri. Sebaliknya, anak yang tidak mendapat
kesempatan untuk melakukan hal tersebut akan menjadi anak yang selalu merasa
bersalah yang selanjutnya akan berkembang menjadi anak yang kurang percaya diri
(minder).
Keberhasilan kreativitas menurut
Ambile dalam Munandar (2004:77), terletak dalam aspek irisan (insersection)
antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan
berfikir dan bekerja kreatif, serta motivasi interinsik yang disebut sebagai
motivasi batin. Motivasi interinsik adalah motivasi yang tumbuh dari dalam diri
anak, berbeda dengan motivasi ekstrinsik yang ditimbulkan dari luar yaitu dari
lingkungan.
3.
Ciri-Ciri
Kreativitas
Bacrudin Musthafa (2008: 78), terdapat
beberapa ciri yang melekat pada makna krativitas itu sendiri yaitu krativitas
itu meruapakan bentuk pemecahan masalah; krativitas itu merupakan gagasan yang
orisinil; kreativitas tidak terbatas pada satu kajian saja; krativitas harus
didukung oleh suasana yang kondusif untuk munculnya kreativitas yang baru.
Sementara
itu Dedi Supriadi (1994: 7) terdapat lima sifat yang menjadi ciri kemampuan
berfikir kreatif, yaitu sebagai berikut :
a. Kelancaran
(fluency), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan atau ide.
b. Keluwesan
(flexsible), yaitu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemnecahan atau
pendekatan terhadap masalah.
c. Keaslian
(originality), yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang
asli.
d. Penguraian
(elaboration), yaitu kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci.
e. Perumusan
kembali (redefinition), yaitu kemampuan untuk meninjau suatu persoalan
berdasarkan prespektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui dengan
orang lain.
Adapun
ciri-ciri aptitude dan non-aptitude sebagaimana yang disajikan oleh Nurlaili sebagai
berikut :
1.) Ciri-Ciri
Kemampuan Berfikir Kreatif (aptitude)
1) Keterampilan
berfikir kreatif, yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian
masalah, atau pertanyaan. Keterampilan berfikir lancara itu sendiri ditandai
dengan hal-hal sebagai berikut :
(a.) Mengajukan
banyak pertanyaan.
(b.) Menjawab
dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
(c.) Mempunya
banyak gagasan mengenai suatu masalah.
(d.) Mengungkapkan
gagas-gagasan nya.
2) Keterampilan
Berfikir Lues (fleksible)
Yaitu
menghasilkan gagasan-gasan, jawaban, atau pertanyaan yang berfariasi sehingga
dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3) Keterampilan
Berfikir Orisinal
Yaitu
mempu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim
untuk mengungkapkan diri, dan mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak
lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4) Keterampilan
Memerinci (mengelaborasi)
Yaitu
mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk dan menambahkan
atau memerinci detail-detail dari suatu objek, gagasan, atau situasi sehingga
menjadi lebih menarik.
5) Menilai
(mengevaluasi)
Yaitu
menentukan ukuran penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan
benar, suatu rencana sehat atau suatu tindakan bijaksana sehingga mampu
mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka dan tidak hanya mencetuskan
gagasan, tetapi juga melaksanakannya.
2.) Ciri-Ciri
Afektif (non-aptitude)
a) Rasa
Ingin Tahu
Yaitu
selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak sesuatu dengan cara mengajukan
banyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang, objek, dan situasi, serta peka
dalam pengamatan dan ingin mengetahui/meneliti.
b) Bersifat
Imajinatif
Yaitu
mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah
terjadi dan mengguakan hayalan, tetapi mengetahua perbedaan antara hayalan dan
kenyataan. Merasa Tertantang oleh
KemajemukanYaitu terdoromg untuk mengatasi masalah yang sulit, merasa
tertantang oleh situasi-situasi yang rumit, dan lebih tertarik pada tugas-tugas
yang sulit.
c) Sifat
Berani Mengambil Resiko
Berani
memberikan jawaban meskipun belum tentu benar, tidak takut gagal/mendapat
kritik, dan tidak menjadi ragu-ragu karena ketidak jelasan, hal-hal yang tidak
konvensional, atau yang kurang berstruktur.
d) Sifat
Menghargai
Yaitu
dapat menghargai bimbingan, mengarah dalam hidup, dan menghargai kemampuan
serta bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.
4.
Strategi
Pengembangan Kreativitas
Pengembangan kreativitas anak di Taman
Kanak-Kanak (TK) perlu dikemas dengan strategi tertentu yang dapat mendorong
munculnya kreativitas anak. Untuk mengembangkan kreativitas anak salah satu
model yang dapat digunakan adalah model Treffinger. Model Treffinger merupakan salah satu model yang mengenai
masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana
mencapai keterpaduan. Dengan melibatkan, baik keterampilan kognif maupun
keterampilan afektif pada setiap tingkatnya. Model traffinger mununjukkan
saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mendorong belajar
kreatif.
Adapun langkah-langkah dalam model
treffinger adalah Basic dan tools (teknik kretivitas tingkat I), Practice with
proces (tingkat kreativitas tingkat II), dan Working with Real problems (teknik
kreativitas tingkat III).
5.
Pengukuran
Kreativitas
Menurut Dedi Supriadi (2001:4), ada
lima macam pendekatan dalam menilai kreativitas, yaitu analisis objektif
terhadap produk kreatif, pertimbangan subjektif, inventori kepribadian,
inventori biografis, dan tes kreativitas. Pertama analisis objektif, pendekatan
analisis objektif adalah pendekatan yang bermaksud untuk menilai secara
langsung kreativitas suatu produk berupa benda atau karya-karya kreatif lain
yang dapat di observasi wujud fisiknya. Kedua pertimbangan subjektif,
pendekatan pertimbangan subjektif dalam menilai kreativitas di arahkan kepada
orang atau produk kreatif. Dalam pendekatan ini, teknik yang digunakan sangat
tergantung pada pertimbangan subjektif orang yang menilai. Ketiga inventori
kepribadian, inventori kepribadian di tunjukan untuk mengetahui
kecenderungan-kecenderungan kepribadian kreatif seseorang yang berhubungan
dengan kreativitas yang meliputi sikap, motivasi, minat, gaya berfikir, dan
kebiasaan-kebiasaan dalam berprilaku. Keempat inventori biografis, inventori
biografis digunakan untuk mengungkapkan berbagai aspek kehidupan orang-orang
kreatif yang meliputi identitas pribadi, lingkungan, pengalaman hidupnya.
Kelima tes kreativitas banyak digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang
kreatif yang ditunjukan oleh kemampuannya dalam berfikir kreatif.
6.
Faktor
Pendukung Kreativitas
Faktor-Faktor yang dapat mendukung
atau mendorong munculnya kreativitas tersebut adalah lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Namun yang tidak kalah
penting adalah adanya kebebasan dan keamanan psikologis dalam diri anak untuk
mengembangankan kondisi bagi perkembangan krativitas.
Faktor-Faktor pendorong yang dapat
meningkat kreativitas anak menurut Hurlock tersebut ialah:
a. Waktu
b. Kesempatan
menyendiri
c. Dorongan
terlepas dari seberapa jauh pretasi anak memenuhi standar orang dewasa
d. Sarana
untuk bermain yang dapat merangsang kreativitas anak
e. Lingkungan
yang merangsang
f. Hubungan
anak dan orang tua yang tidak posesif
g. Cara
mendidik anak
h. Kesempatan
untuk memperoleh pengetahuan
Dari uraian di atas, dapat dipahami
bahwa kreativitas anak akan berkembang jika orang tua dan guru bersikap
demokratik. Dengan prilaku yang mau mendengarkan dan menghargai pendapat anak,
mendorong anak untuk berani, mengungkapkan pendapat dan tidak memotong
pembicaraan anak ketika anak ingin mengungkapkan pikirannya.
7.
Faktor
Penghambat Kreativitas
Amabile dalam Utami Munandar
(2004:223) mengemukakan bahwa ada empat hal yang mesti di hindari dalam
mengembangkan kreativitas anak, yaitu: evaluasi, Hadiah, persaingan, dan
lingkungan yang membatasi.
Begitu
juga Torance dalam Adipura (2001:46), menjelaskan bahwa hal-hal yang dapat
menghambat kreativitas anak ialah:
a. Pembatasan
terhadap rasa ingin tahu anak
b. Terlalu
menekankan peran berdasarkan seksual
c. Terlalu
banyak melarang
d. Takut
dan malu
e. Penekanan
yang salah kaprah terhadap penampilan
f. Memberikan
kritik bersifat mengejek
Dengan menghambat kreativitas anak
menurut Utami Munandar (2004:95),
mengemukakan bahwa sikap orang tua seringkali banyak bertolak belakang
dengan upaya mengembangkan kreativitas anak. Alih-alih merasa sayang dan untuk
memberikan perhatian lebih pada anak malah berubah hasil negatif, yang
menghambat kreativitas anak itu sendiri, hal-hal tersebut:
1. Mengatakan
kepada anak bahwa akan dihukum juka berbuat salah.
2. Tidak
memperbolehkan anak menjadi marah terhadap orang tuanya
3. Tidak
memperbolehkan anak mempertanyakan terhadap keputusan orang tua
4. Anak
tidak boleh berisik
5. Orang
tua tetap mengawasi anak
6. Orang
tua memberi sasaran spesifik tentang penyelesaian tugas
7. Orang
tua kritis kepada anak dan menolak gagasan anak
8. Orang
tua tidak sabar kepada anak
9. Orang
tua dan anak adu kekuasaan
10. Orang
tua tidak memperbolehkan anak bermain dengan anak keluarga yang mempunyai
pandangan yang nilai berbeda
11. Orang
tua menekan dam memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.
Referensi
Susanto Ahmad, “Pendidikan
Anak Usia Dini”, Jakarta:
Bumi Aksara, 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar