Model-Model
Pembelajaran dengan Sudut-sudut Kegiatan, Area Dan Sentra Untuk Anak Usia Dini
A. Pengertian
Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu desain atau rancangan
yang mengambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang
memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi perubahan
dan perkembangan pada diri anak. Adapun komponen model pembelajaran meliputi :
konsep, tujuan pembelajaran, materi/tema, langkah-langkah, metode, alat/sumber
belajar dan teknik evaluasi.
Penyusunan model pembelajaran di PAUD didasarkan pada
silabus yang dikembangkan menjadi perencanaan semester, rencana kegiatan
mingguan (RKM), dan rencana kegiatan harian (RKH). Dengan demikian model
pembelajaran merupakan gambaran konkrit yang dilakukan pendidik dan peserta
didik sesuai dengan rencana kegiatan harian.
Ada beberapa model pembelajaran yang dilaksanakan di
pendidikan Anak Usia Dini, diantaranya adalah model pembelajaran klasikal,
model kegiatan kelompok dengan kegiatan pengaman, model berdasarkan sudut-sudut
kegiatan, model pembelajaran area, dan model pembelajaran berdasarkan sentra.
Model-model pembelajaran tersebut pada umumnya menggunakan langkah-langkah yang
relatif sama dalam sehari, yaitu : kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat dan
kegiatan akhir atau penutup.
Kegiatan pendahuluan adalah kegiatan awal dalam
pembelajaran yang di tujukan untuk memfokuskan perhatian, membangkitkan
motivasi sehingga peserta didik siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kegiatan inti, dilakukan melalui proses untuk mencapai kemampuan dasar yang
dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan
partisipatif. Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi, eksperimen,
elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan penutup adalah kegiatan dilakukan untuk
mengakhiri aktivitas pembelajaran. Bentuk kegiatannya berupa menyimpulkan,
umpan balik dan tindak lanjut.
B.
MODEL PEMBELAJARAN SUDUT
Kegiatan
pembelajaran dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan,
menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang mirip dengan model pembelajaran
area, karena memperhatikan minat anak. Jumlah sudut yang disediakan 5 sudut
dalam penggunaannya disesuaikan dengan program yang direncanakan dengan kiasan
2 sampai 5 sudut. Dalam kondisi tertentu dimungkinkan 1 sudut lebih dari 1
kegiatan. Alat-alat yang disediakan pada sudut-sudut kegiatan selaykanya lebih
bervariasi dan sering diganti, disesuaikan dengan tema atau sub tema yang
dibahas.
Berikut Aspek-Aspek Model Pembelajaran Sudut Di PAUD:
1.
Sudut Ketuhanan
Alat-alat yang
ditempatkan adalah maket tempat ibadah, peralatan ibadah, gambar-gambar, dan
alat lainnya yang sesuai dengan keagamaan.
2.
Sudut keluarga
Alat-alat pada
sudut keluarga terdiri dari kursi tamu, meja makan, peralatan dapur, peralatan
ruang kamar tidur, boneka berbagai jenis, dan peralatan lain di ruang tamu.
3.
Sudut alam sekitar dan pengetahuan
Alat-alat pada
sudut alam sekitar dan pengetahuan terdiri dari akuarium, meja/rak untuk
benda-benda obyek pengetahuan, kulit kerang, biji-bijian, batu-batuan, kaca
pembesar, timbangan, magnet dan alat-alat untuk menyelidiki alam sekitar,
gambar-gambar tentang alam sekitar dan gejala alam.
4.
Sudut pembangunan
Alat-alat yang
ditempatkan pada sudut ini adalah alat-alat untuk permainan konstruksi, seperti
balok, keping, geometri, alat pertukangan, dan miniatur/model berbagai jenis
kendaraan, plastisin, pledog, tanah liat.
5.
Sudut kebudayaan
Alat-alat yang
ditempatkan pada sudut kebudayaan adalah peralatan musik/perkusi, rak-rak buku,
buku perpustakaan, alat untuk pengenalan bentuk, warna, konsep bilangan,
simbol-simbol, alat untuk kreativitas, rumah adat, pakaian adat, tokoh-tokoh
pewayangan.
Keberadaan sudut-sudut kegiatan tersebut dapat
ditempatkan di dalam kelas maupun di ruang sendiri sesuai keadaan dan kondisi
di PAUD masing-masing. Pada waktu kegiatan di sudut berlangsung, pendidik tidak
hanya berada di salah satu sudut saja, tetapi juga memberikan bimbingan kepada
peserta didik yang membutuhkan atau mengalami kesulitan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan
kelas pada model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan adalah :
a.
Pengaturan alat bermain dan perabot di
ruangan, termasuk meja, kusi dan luasnya ruangan, disesuaikan dengan kegiatan
yang akan dilaksanakan khususnya pada sudut-sudut kegiatan.
b.
Sumber belajar dan hasil kegiatan anak
dapat dipajang di papan atau di dinding ruangan. Hasil karya anak, dapat juga
disimpan di laci masing-masing anak sebagai portofolio.
c.
Setelah digunakan untuk pembelajaran,
alat bermain dirapikan dan disimpan sedemikian rupa sehingga dapat melatih anak
untuk pembiasaan yang ingin dicapai seperti kemandirian, tanggung jawab,
membuat keputusan, kebiasaan mengatur kembali peralatan dan sebagainya.
Berikut Ini Merupakan Langkah-Langkah
Kegiatan Pembelajaran Pendekatan Sudut:
1) Kegiatan awal
(+30 menit)
Kegiatan yang
dilaksanakan adalah bernyanyi, berdoa, mengucap salam, membicarakan tema/sub
tema diskusi kegiatan yang akan dilaksanakan, dan melakukan kegiatan
fisik/motorik.
2) Kegiatan inti
(+60 menit) secara individual di sudut-sudut kegiatan
Sebelum
melakukan kegiatan inti, pendidik bersama anak membicarakan tugas-tugas yang
diprogramkan di sudut-sudut kegiatan. Setelah itu pendidik menjelaskan
kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan disetiap sudut kegiatan yang di
programkan. Sudut yang dibuka setiap hari disesuaikan dengan indikator yang
dikembangkan dan sarana/alat pembelajaran yang ada. Kemudian anak dibebaskan
untuk memilih sudut kegiatan yang disukai sesuai dengan minatnya. Anak dapat
berpindah sudut kegiatan sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh pendidik,
pendidik memberi motivasi.
3) Istirahat/makan
(+30 menit)
Kegiatan makan
bersama menanamkan pembiasaan yang baik, misalnya mencuci tangan, berdoa
sebelum dan sesudah makan, berbagi bekal dengan teman, membereskan dan
merapikan alat-alat makan dan sebagainya. Setelah kegiatan makan selesai, waktu
yang tersedia dapat digunakan untuk bermain di dalam atau di luar kelas.
4) Kegiatan akhir
(+30 menit)
Kegatan akhir
dilaksanakan secara klasikal, misalnya dengan bercerita, bernyanyi, gotong
royong, membersihkan kelas, diskusi kegiatan sehari yang telah dilakukan,
informasi kegiatan esok hari, berdo’a, dan mengucapkan salam.
C. Model
Pembelajaran BCCT (Beyond Centre and Circle Time)
Model pembelajaran BCCT adalah pendekatan pembelajaran
yang dalam proses pembelajarannya dilakukan di dalam ‘lingkaran” (circle
times) dan sentra bermain. Lingkaran
adalah saat di mana guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk
memberikan pijakan sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah zona atau
area dengan seperangkat sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk
mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik dalam berbagai aspek
perkembangan secara seimbang. Sentra yang dibuka setiap harinya disesuaikan
dengan jumlah kelompok di setiap PAUD .Sentra bermain terdiri dari sentra bahan
alam dan sains, sentra balok, sentra seni, sentra bermain peran, sentra
persiapan, sentra agama, dan sentra musik.
Pendekatan ini berusaha untuk merangsang anak agar
bermain secara aktif di sentra-sentra permainan. Jadi, anak didiknya yang
belajar aktif, bukan gurunya. Anak diperlakukan sebagai “subjek otonom” yang
secara liberal mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Sementara tugas guru
lebih bersifat “pasif” dari pada aktif. Dikatakan “pasif” karena tugas guru
hanya sebatas memotivasi, memfasilitasi, mendampingi, dan memberi
pijakan-pijakan. Pijakan yang dimaksud di sini adalah dukungan yang
berubah-ubah karena disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau masa peka
(periode sensitif). Ciri khas pijakan dalam pendekatan BCCT adalah duduk
melingkar. Inilah alasannya mengapa pendekatan ini disebut “saat lingkaran”.
Dalam mengoptimalkan perkembangan anak disentra yang
perlu diperhatikan adalah densitas dan intensitas. Densitas berkaitan dengan
keragaman kegiatan yang disediakan, sedangkan intensitas berkaitan dengan waktu
yang diperlukan. Untuk merangsang perkembangan anak pada tahapan yang lebih
tinggi, pendekatan ini menggunakan empat pijakan, yaitu pijakan lingkungan
bermain (persiapan), pijakan sebelum bermain, pijakan selama bermain, dan
pijakan setelah bermain.
1.
Pijakan
lingkungan bermain (persiapan). Pada pijakan ini, guru lebih aktif daripada
anak didik. Sebab, pada pijakan ini guru harus mempersiapkan lingkungan bermain
sehingga sebelum anak masuk, area sudah tertata rapi dan siap digunakan
bermain.
2.
Pijakan
sebelum bermain. Pijakan ini berisi berbagai kegiatan awal, seperti salam
pembuka, mengabsen, doa, penjelasan tema materi atau pelajaran, mengawali
dengan bernyanyi atau cerita, menyampaikan aturan bermain, dan lain sebagainya.
Biasanya, pijakan ini memakan waktu 15 menit atau ¼ jam.
3.
Pijakan
selama bermain. Tugas guru selama anak-anak bermain lebih bersifat “pasif”
daripada aktif. Tugas mereka hanya sekedar memotivasi, memfasilitasi, dan
mendampingi. Bahkan, seandainya anak-anak jatuh sekalipun, guru tidak boleh
membantu membangunkannya, kecuali anak-anak benar-benar sakit dan tidak bisa
bangun. Pijakan ini berisi berbagai kegiatan, seperti membawa anak-anak ke
lokasi bermain. Memberi contoh cara menggunakan alat permainan edukatif,
mengumpulkan hasil kerja anak, dan lain sebagainya. Biasanya, pijakan ini
memakan waktu selama 60 menit atau satu jam.
4.
Pijakan
setelah bermain. Pijakan ini menanamkan sikap tanggung jawab anak didik, di
mana setiap anak harus mengembalikan permainan yang diambilnya ke tempatnya
semula. Beberapa kegiatan dalam pijakan ini adalah guru memberi instruksi bahwa
waktu bermain habis, menginstruksikan mereka agar membersihkan, merapikan, dan
mengembalikan semua alat permainan edukatif ke tempatnya semula, mengajukan
beberapa pertanyaan seputar hal-hal yang dilakukan anak didik ketika bermain,
dan menutupnya.
Semua sentra tersebut dapat dimainkan dengan baik jika
pelaksanaannya berpegang pada prinsip-prinsip BCCT, Prinsip pembelajaran dengan
pendekatan BCCT antara lain:
a.
Keseluruhan
proses pembelajarannya berlandaskan pada teori dan pengalaman empiris.
b.
Setiap
proses pembelajaran ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak
melalui bermain terencana dan terarah serta dukungan pendidik dalam bentuk
pijakan-pijakan.
c.
Menempatkan
penataan lingkungan main sebagai pijakan awal yang merangsang anak untuk aktif,
kreatif dan terus berfikir dengan menggali pengalamannya sendiri.
d.
Menggunakan
standar operasional yang baku dalam proses pembelajarannya.
e.
Mensyaratkan
pendidik dan pengelola program untuk mengikuti pelatihan sebelum menerapkan
pendekatan ini.
f.
Melibatkan
orang tua dan keluarga sebagai satu kesatuan proses pembelajaran untuk mendukung
kegiatan anak di rumah.
Tujuan dari model BCCT (Beyond Center and Circle Time)
yang dimaknai sebagai sentra dan saat lingkaran adalah sebagai berikut:
1)
Model
ini ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak melalui bermain yang
terarah.
2)
Model
ini menciptakan setting pembelajaran yang merangsang anak untuk aktif, kreatif,
dan terus berpikir dengan menggali pengalamannya sendiri (bukan sekedar
mengikuti perintah, meniru dan menghafal).
3)
Dilengkapi
dengan standar operasional yang baku, yang berpusat di sentrasentra kegiatan
dan saat anak berada dalam lingkaran bersama pendidik, sehingga mudah diikuti.).
Setiap sentra mendukung perkembangan anak dalam tiga
jenis bermain yaitu bermain sensorimonitor atau fungsional, bermain peran dan
bermain konstruktif (membangun pemikiran anak
a)
Bermain
sensorimonitor adalah menangkap rangsangan melalui penginderaan dan
menghasilkan gerakansebagai reaksinya. Anak usia dini belajar melalui panca
inderanya dan melalui hubungan fisikdengan lingkaran mereka. Misalnya menakar
air, meremas kertas bekas, mengguntung dan lain-lain.
b)
Bermain
peran yaitu terdiri dari bermain simbolik, fantasi, imajinasi, atau bermain
drama. Anak bermain dengan benda untuk membantu menghadirkan konsep yang telah
dimilikinya.
c)
Bermain
konstruktif yaitu menunjukkan mewujudkan pikiran, ide, dan gagasannya menjadi
sebuah karya nyata. Ada dua jenis bermain konstrusi, yaitu bermain konstrusi
sifat cat (air, spidol, an lain-lain) dan bermain konstrusi terstruktur
(balok-balok, lego, dan lain-lain.
Adapun macam-macam sentra bermain antara lain:
(1)
Sentra
bahan alam atau sains
Bahan-bahan yang diperlukan di sentra ini adalah daun,
ranting, kayu, pasir, air, bata, biji-bijian, dan lain-lain. Alat yang digunakan
diantaranya sekop, saringan, ember, dan lain-lain. Sentra ini memfasilitasi
anak untuk mengembangkan dan memperluas pengalaman bermain sensorimotor dengan memberikan banyak kesempatan pada anak untuk
mengeksplorasi bahan-bahan alami dalam mengembangkan kematangan motorik halus
yang diperlukan dalam proses kesiapan menulis, keterampilan berolahraga dan
menstimulasi sistem kerja otak anak. Manfaat sentra bahan alam atau sains
adalah mendukung tahap perkembangan sensorimotor, mendukung tahap perkembangan
konstrusi cair (tahap melukis. Tahap playdough),mendukung
anak belajar konsep-konsep sains, mendukung anak untuk lebih control,
memperkuat fine motor skill. Kegiatan
disentra bahan alam atau sains diantaranya kegiatan pembangunan sifat cair,
yang banyak menggunakan bahan-bahan bersifat fluid, seperti:air, pasir, biji-bijian, tepung terigu, kegiatan
menakar, mengisi maupun pengamatan terhadap kejadian-kejadian sains.
(2)
Sentra
balok
Sentra balok berisi berbagai macam balok dalam
berbagai bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Disini anak belajar banyak hal
dengan cara menyusun/menggunakan balok, mengembangkan kemampuan logika
matematika/berhitung permulaan, kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Manfaat sentra balok yaitu dapat mengembangkan keterampilan hubungan dengan
teman sebaya, anak mengenal bentuk lingkaran, silindris, segi empat, segitiga
dan lainnya, dan anak akan belajar lebih teliti dengan melihat susunan balok
yang mereka gunakan. Kegiatan sentra balok bisa dengan cara membangun dengan
menggunakan macam-macam bentuk dan ukuran balok.
(3)
Sentra
seni
Bahan-bahan yang diperlukan di sentra ini adalah
kertas, cat air, krayon, spidol, gunting, kapur, tanah liat, pasir, lilin,
kain, daun, potongan-potongan bahan/gambar. Sentra seni memfasilitasi anak
untuk memperluas pengalaman dalam mewujudkan ide, gagasan dan pengalaman yang
dimiliki anak ke dalam karya nyata (hasil karya) melalui metode proyek. Manfaat
sentra seni diantaranya mengembangkan keterampilan motorik halus, kemampuan
menggunakan berbagai alat dan bahan, kemampuan estetik anak terhadap karya
seni, dan kemampuan bekerja secara sistematis. Kegiatan sentra seni dapat
dilakukan dengan cara mewarnai dengan krayon, melukis dengan kuas kecil,
kolase, mozaik, finger painting, dan
lain sebagainya.
(4)
Sentra
bermain peran
Sentra bermain peran merupakan wujud dari kehidupan
nyata yang dimainkan anak, membantu anak memahami dunia mereka dengan memainkan
berbagai macam benda untuk bermain peran tergantung dari minat anak pada saat
itu. Misal, tema “keluarga” dengan alat yang dibutuhkan peralatan dapur dan
lain-lain.sentra bermain peran terdapat 2 macam yaitu, sentra main peran besar
dan sentra bermain peran kecil. Sentra main peran
besara adalah sentra yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan
pengertian mereka tentang dunia disekitarnya, kemampuan berbahasa, keterampilan
mengambil sudut pandang dan empati melalui main peran yang mengalirkan knowledge
pada anak. Main peran disebut juga bermain simbolik, role play, make
believe, fantasi, imajinasi, atau bermain drama. Sedangkan Sentra main
peran kecil memberikan materi pada anak melalui alat main berukuran kecil. Anak
bisa menjadi sebagai dalang yang menggerakkan boneka yang menjadi pemeran. Main
peran disebut juga bermain simbolik, role play, make believe, fantasi,
imajinasi, atau bermain drama.
(5)
Sentra
persiapan
Bahan yang ada pada sentra ini adalah buku-buku, kartu
kata, kartu huruf, kartu angka dan bahan-bahan untuk kegiatan menyimak,
bercakapan persiapan menulis serta berhitung. Kegiatan yang dilaksanakan adalah
persiapan membaca permulaan, menulis permulaan serta berhitung permulaan.
Mendorong kemampuan intelektual anak, gerakan otot halus, koordinasi
mata-tangan, belajar keterampilan social (berbagi bernegoisasi dan memecahkan
masalah). Tujuan Sentra ini fokus pada anak untuk
mengurutkan, mengklasifikasikan, mengorganisasikan alat-alat dan bahan kerja,
termasuk membaca, berhitung, dan menulis. Sentra ini memiliki
aturan yang berbeda dengan sentra lain, hal ini dikarenakan karena sentra ini
merupakan sentra kerja. Contoh, anak mengurutkan angka dari yang terbesar
hingga terkecil atau sebaliknya. Anak menyusun benda dari terbesar hingga
terkecil, atau sebaliknya. Anak mengklasifikasikan benda yang satu warna, benda
yang ukurannya sama, benda yang bentuknya sama, atau mengklasifikasikan benda
yang ukuran, bentuk dan warnanya sama. Anak membuat pola, menggunting pola,
atau membuat sebuah karya dari pola-pola yang mereka buat.
(6)
Sentra
agama
Bahan yang dipersiapkan adalah berbagai maket tempat
ibadah, perlengkapan ibadah, gambar-gambar, buku-buku cerita keagamaan, dan
sebagainya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan
beragama, keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha esa. Agama merupakan
suatu konsep yang abstrak yang perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang
konkrit bagi anak.
Manfaat sentra agama diantaranya anak menyukai dan
mencintai agamanya sehingga mau melakukan yang diperintahkan oleh Allah secara
ikhlas, anak berakhlakul karimah seperti yang dicontohkan oleh nabi Muhammad
SAW, anak dapat belajar awal membaca dan menulis huruf hijaiyah, dan anak dapat
praktik langsung cara-cara beribadah yang benar. Kegiatan sentra agama bisa
dilakukan dengan cara mengucapkan surat-surat pendek dan doa-doa harian,
membaca dan menulis huruf hijaiyah sesuai perkembangan anak, praktik wudhu dan
sholat, dan mengenalkan konsep rukun islam dan rukun iman.
(7)
Sentra
Musik
Bahan yang dibutuhkan pada sentra musik, misalnya
botol beling/kaca, tempurung kelapa, rebana, tutup botol, triangle, dan
lain-lain. Sentra music memfasilitasi anak untuk memperluas pengalamannya dalam
menggunakan gagasan mereka melalui olah tubuh, bermain musik dan lagu yang
dapat memperluas pengalaman dan pengetahuan anak tentang irama, birama
(ketukan), dan mengenal berbagai bunyi-bunyian dengan menggunakan alat-alat
musik yang mendukung, misalnya pianika, piano, rebana, dan lain-lain.
Berikut kelebihan model pembelajaran BCCT (Beyond
centre and circle time)
(a)
Mampu
memberikan pengalaman bermain secara lebih lengkap dan mendalam melalui
pembagian sentra-sentra dalam lingkaran.
(b)
Lebih
fleksibel dan konstektual, sehingga pendekatan ini lebih sesuai dengan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Dan kekurangan Model Pembelajaran BCCT (Beyond centre
and circle time)
(a)
Pendekatan
sentra dan lingkaran menghalangi kebebasan anak untuk memilih lebih dari satu
permainan.
(b)
Tidak
bisa beralih dari satu permainan ke permainan yang lain sebelum menyelesaikan
permainan yang disajikan guru. Dengan demikian, pendekatan Sistem Area
memberikan pengalaman bermain yang luas namun dangkal, sedangkan pendekatan
area memberikan pengalaman bermain yang mendalam tetapi sempit sehingga
pendekatan ini lebih sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
D. Model
Pembelajaran Area (Minat)
Model Pembelajaran Area disebut juga dengan model
pembelajaran berdasarkan minat, karena model pembelajaran ini yang memberi
kesempatan kepada anak didik untuk memilih/melakukan kegiatan sendiri sesuai
dengan minatnya. Tetapi anak-anak tetap harus di bawah pengawasan pendidik,
model pembelajaran ini mengajarkan cara bertanggung jawab dengan merapikan
permainannya setelah bermain, mandiri, kreatif, sehingga anak dapat membuat kesimpulan
sendiri dari setiap hal yang dipelajarinya.
Model ini merupakan pendekatan yang sangat efektif
yang dikembangkan dalam pembelajaran secara individu. Pendekatan ini sangat
membantu anak dalam mengumpulkan benda-benda yang telah disusun disekitar satu atau
lebih dimana anak dapat berinteraksi dengan media tersebut. Dengan demikian
kemampuan anak dalam belajar lebih optimal, anak lebih sibuk bergerak melakukan
atau aktif belajar yang telah dipilihnya. Dengan sistem area ini pengalaman
belajar anak lebih banyak dan anak lebih kreatif.
Pembelajaran berdasarkan minat menggunakan 10 area,
yakni: area agama, balok, bahasa, drama, berhitung, atau matematika, IPA, seni
atau motorik, pasir dan air, membaca, dan menulis.
Area
belajar pada pembelajaran berdasarkan minat antara lain :
1. Area
ibadah/imtak yang terdiri dari Maket
mushola, gambar tata
cara
solat dan wudhu, sajadah, mukena, sarung, peci, alquran, kartu huruf hiyaiyah, buku iqra`, juz `amma, dan
sebagainya yang meliputi alat-alat permainan lima aspek rukun islam dari kalimat syahadat sampai dengan haji.
2. Area
balok Balok-balok berbagai ukuran dan warna, logo, lotto sejenis dan berpasangan, kepingan geometri,
kubus
berpola, kubus berbagai
ukuran dan warna bola berbagai ukuran dan warna, dan lain
sebagainya.
3. Area
berhitung/matematika yang terdiri dari lambang bilangan, kepingan geometri,
kartu angka, puzzle, ukuran panjang pendek, konsep bilangan, kubus permainan, pohon hitung,
papan jamur, ukuran tebal tipis, tutup botol,pensil, manic-manik, gambar
buah-buahan, penggaris meteran, buku tulis, puzzle busa (angka), kalender,
gambar bilangan, papan pasak, jam, kartu gambar, kartu berpasangan
dan lain sebagainya.
4. Area
ipa yang terdiri dari acam-macam gambar binatang, gambar-gambar proses pertumbuhan tanaman, biji-bijian (jagung, kacang tanah, kacang
hijau, beras), kerang, batu kerikil, pasir, bunga karang, magnet, mikroskop,
kaca pembesar, pipet, tabung ukur, timbangan kue, gelas ukuran, gelas pencampur warna,
nuansa warna, meteran, penggaris,benda-benda kasar halus, (batu, batu-bata,,
amplas, kayu, dan kapas) benda-benda
pengenalan berbagai macam rasa (gula, kopi, asam, cuka, garam, sirup, cabe, dan
lain-lain), berbagai macam bumbu (bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar,
kemiri, lengkuas, daun salam, jahe, kunyit, jinten, dan lain-lain).
5. Area
musik yang terdiri dari Seruling, organ kecil, gitar kecil, angklung, piano, tamburin,
kerincingan, triangle, wood block, kulintang, biola, harmonica, gendang,
rebana, dan
lain sebagainya
6. Area
bahasa yang terdiri dari Buku cerita, gambar seni, boneka tangan, kartu kategori kata, panggung boneka, papan
planel,kartu nama-nama hari, kartu nama-nama bulan, majalah pesertadidik,Koran,
macam-macam gambar sesuai tema, dan sebagainya.
7. Area
menulis dan membaca yang terdiri dari Buku perpustakaan, buku tulis, pensil
warna, pensil 2B, kartu
huruf, kartu kata, kartu gambar, dan sebagainya.
8. Area
drama yang terdiri dari Tempat tidur peserta didik dan boneka, lemari kecil, meja-kursi kecil, meja tamu, boneka-boneka, tempat
jemuran, tempat gososkan,setrikaan, baju-baju besar, handuk, bekas make-up,
minyak wangi, sisir, kompor-komporan, penggorengan, dandang tiruan, piring
sendok, gelas, garpu, cangkir, teko, keranjang belanja, pisau mainan, ulekan
(cobek), mangkok, tas, sepatu, sandal, rak sepatu, cermin, mixer, blender,
sikat gigi, pasta gigi, telepon-teleponan, baju tentra dan polisi, baju
dokter-dokteran, dan sebagainya.
9. Area
pasir/air yang terdiri dari Bak pasir/air,
akuarium kecil, ember kecil, gayung, garpu, botol plastic, tabung air,
cangkir plastic, literan air, corong, sekop kecil, saringan pasir, serokan,
penyiram tanaman dan
sebagainya.
10. Area
seni dan motorik yang terdiri dari Meja gambar, meja kursi , krayon, pensil berwarna, pensil 2B, kapur tulis, arang, buku gambar, kertas
lipat, kertas Koran, lem, gunting, kertas warna, kertas kado, kertas bekas,
bahan sisa, buku gambar, dan sebagainya. Model pembelajaran berdasarkan minat ini terdiri atas
tiga kegiatan, yakni awal, inti, dan akhir.
a.
Kegiatan
awal disampaikan guru secara klasikal, seperti salam pembuka, bernyanyi,
berdoa, bercerita pengalaman anak, penjelasan tema materi, dan melakukan
kegiatan fisik motorik. Biasanya kegiatan ini memakan waktu 30 menit.
b.
Kegiatan
inti disampaikan guru individual di area, seperti membicarakan tugas di area
kemudian anak didik bebas memilih area mana yang disukai sesuai dengan
minatnya. Anak dapat berpindah sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh
guru, kemudian guru menilai dengan observasi, penugasan, hasil karya, dan unjuk
kerja. Kegiatan inti dilaksanakan kurang lebih 60 menit.
c.
Istirahat
atau makan selama 30 menit.
d.
Kegiatan
akhir berisi cerita, menyanyi, dan berdoa selama 30 menit yang disampaikan
secara klasikal.18 Sistem Area lebih menekankan pada belajar sambil bermain atau
bermain seraya belajar. Artinya, aspek pelajaran dikemas dalam bentuk
permainan, sehingga anak-anak belajar dengan cara bermain. Anak didik bermain
sesuai dengan minat masing-masing. Mereka berhak memilih area mana yang akan
dilakukan olehnya dari minimal empat area yang disesuaikan oleh guru dalam
setiap harinya. Meskipuna anak didik berhak memilih, tetapi mereka diharapkan
mentelesaikan semua area yang disiapkan oleh guru.
Berikut kelebihan model pembelajaran area (Minat)
1)
Adanya
kebebasan minat anak didik untuk bermain sesuatu yang mereka inginkan tanpa
adanya tekanan yang berarti.
2)
Hampir
tidak ada batasan atau tekanan dalam pendekatan ini. Jika guru mampu
memfasilitasi setiap permainan yang diminati anak didik, mereka akan memperoleh
pengalaman belajar yang mendalam atas permainan yang dipilihnya tersebut.
Dan berikut kekurangan model pembelajaran area (Minat)
1)
Menekankan
belajar berdasarkan minat adalah anak didik hanya memilih satu atau dua area
permainan yang memang benar-benar menjadi minatnya. Sementara area permainan
lain yang mungkin justru sangat penting tidak dipilihnya karena tidak diminati.
2)
Terbukanya
kemungkinan anak untuk berpindah area mainan berkali-kali sebelum anak tersebut
menyelesaikan area permainan awalnya. Sebab, sistem area memungkinkan untuk
menjalankan pembelajaran pada minimal empat area sekaligus.
Referensi
Hijriati. PENGEMBANGAN MODEL
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.
Volume III. Nomor 1. Januari – Juni 2017
Ine Rahaju.
2014. Analisis Penyelengaraan Pendidikan
Anak Usia Dini Yang Menggunakan Model
Beyond Center And Circle Time
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |
perpustakaan.upi.edu
Kulsum,
Umi. Konsep Dasar PAUD. Jati Agung,
Lampung Selatan: Sekolah Tinggi Agama Islam An-nur Lampung. 2016
Mukhtar
Latif, Zukhairina, dkk. Orientasi Baru
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP. 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar