Kamis, 01 November 2018

Model-Model Pembelajaran dengan Sudut-sudut Kegiatan, Area Dan Sentra Untuk Anak Usia Dini

Model-Model Pembelajaran dengan Sudut-sudut Kegiatan, Area Dan Sentra Untuk Anak Usia Dini
A.    Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah suatu desain atau rancangan yang mengambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan pada diri anak. Adapun komponen model pembelajaran meliputi : konsep, tujuan pembelajaran, materi/tema, langkah-langkah, metode, alat/sumber belajar dan teknik evaluasi.
Penyusunan model pembelajaran di PAUD didasarkan pada silabus yang dikembangkan menjadi perencanaan semester, rencana kegiatan mingguan (RKM), dan rencana kegiatan harian (RKH). Dengan demikian model pembelajaran merupakan gambaran konkrit yang dilakukan pendidik dan peserta didik sesuai dengan rencana kegiatan harian.
Ada beberapa model pembelajaran yang dilaksanakan di pendidikan Anak Usia Dini, diantaranya adalah model pembelajaran klasikal, model kegiatan kelompok dengan kegiatan pengaman, model berdasarkan sudut-sudut kegiatan, model pembelajaran area, dan model pembelajaran berdasarkan sentra. Model-model pembelajaran tersebut pada umumnya menggunakan langkah-langkah yang relatif sama dalam sehari, yaitu : kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat dan kegiatan akhir atau penutup.
Kegiatan pendahuluan adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang di tujukan untuk memfokuskan perhatian, membangkitkan motivasi sehingga peserta didik siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Kegiatan inti, dilakukan melalui proses untuk mencapai kemampuan dasar yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan partisipatif. Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi, eksperimen, elaborasi, dan konfirmasi. Kegiatan penutup adalah kegiatan dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran. Bentuk kegiatannya berupa menyimpulkan, umpan balik dan tindak lanjut.
B.     MODEL PEMBELAJARAN SUDUT
Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan, menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang mirip dengan model pembelajaran area, karena memperhatikan minat anak. Jumlah sudut yang disediakan 5 sudut dalam penggunaannya disesuaikan dengan program yang direncanakan dengan kiasan 2 sampai 5 sudut. Dalam kondisi tertentu dimungkinkan 1 sudut lebih dari 1 kegiatan. Alat-alat yang disediakan pada sudut-sudut kegiatan selaykanya lebih bervariasi dan sering diganti, disesuaikan dengan tema atau sub tema yang dibahas.
Berikut Aspek-Aspek  Model Pembelajaran Sudut Di PAUD:
1.      Sudut Ketuhanan
Alat-alat yang ditempatkan adalah maket tempat ibadah, peralatan ibadah, gambar-gambar, dan alat lainnya yang sesuai dengan keagamaan.
2.      Sudut keluarga
Alat-alat pada sudut keluarga terdiri dari kursi tamu, meja makan, peralatan dapur, peralatan ruang kamar tidur, boneka berbagai jenis, dan peralatan lain di ruang tamu.
3.      Sudut alam sekitar dan pengetahuan
Alat-alat pada sudut alam sekitar dan pengetahuan terdiri dari akuarium, meja/rak untuk benda-benda obyek pengetahuan, kulit kerang, biji-bijian, batu-batuan, kaca pembesar, timbangan, magnet dan alat-alat untuk menyelidiki alam sekitar, gambar-gambar tentang alam sekitar dan gejala alam.
4.      Sudut pembangunan
Alat-alat yang ditempatkan pada sudut ini adalah alat-alat untuk permainan konstruksi, seperti balok, keping, geometri, alat pertukangan, dan miniatur/model berbagai jenis kendaraan, plastisin, pledog, tanah liat.
5.      Sudut kebudayaan
Alat-alat yang ditempatkan pada sudut kebudayaan adalah peralatan musik/perkusi, rak-rak buku, buku perpustakaan, alat untuk pengenalan bentuk, warna, konsep bilangan, simbol-simbol, alat untuk kreativitas, rumah adat, pakaian adat, tokoh-tokoh pewayangan.
Keberadaan sudut-sudut kegiatan tersebut dapat ditempatkan di dalam kelas maupun di ruang sendiri sesuai keadaan dan kondisi di PAUD masing-masing. Pada waktu kegiatan di sudut berlangsung, pendidik tidak hanya berada di salah satu sudut saja, tetapi juga memberikan bimbingan kepada peserta didik yang membutuhkan atau mengalami kesulitan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas pada model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan adalah :
a.       Pengaturan alat bermain dan perabot di ruangan, termasuk meja, kusi dan luasnya ruangan, disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan khususnya pada sudut-sudut kegiatan.
b.      Sumber belajar dan hasil kegiatan anak dapat dipajang di papan atau di dinding ruangan. Hasil karya anak, dapat juga disimpan di laci masing-masing anak sebagai portofolio.
c.       Setelah digunakan untuk pembelajaran, alat bermain dirapikan dan disimpan sedemikian rupa sehingga dapat melatih anak untuk pembiasaan yang ingin dicapai seperti kemandirian, tanggung jawab, membuat keputusan, kebiasaan mengatur kembali peralatan dan sebagainya.
Berikut Ini Merupakan Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Pendekatan Sudut:
1)      Kegiatan awal (+30 menit)
Kegiatan yang dilaksanakan adalah bernyanyi, berdoa, mengucap salam, membicarakan tema/sub tema diskusi kegiatan yang akan dilaksanakan, dan melakukan kegiatan fisik/motorik.
2)      Kegiatan inti (+60 menit) secara individual di sudut-sudut kegiatan
Sebelum melakukan kegiatan inti, pendidik bersama anak membicarakan tugas-tugas yang diprogramkan di sudut-sudut kegiatan. Setelah itu pendidik menjelaskan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan disetiap sudut kegiatan yang di programkan. Sudut yang dibuka setiap hari disesuaikan dengan indikator yang dikembangkan dan sarana/alat pembelajaran yang ada. Kemudian anak dibebaskan untuk memilih sudut kegiatan yang disukai sesuai dengan minatnya. Anak dapat berpindah sudut kegiatan sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh pendidik, pendidik memberi motivasi.
3)      Istirahat/makan (+30 menit)
Kegiatan makan bersama menanamkan pembiasaan yang baik, misalnya mencuci tangan, berdoa sebelum dan sesudah makan, berbagi bekal dengan teman, membereskan dan merapikan alat-alat makan dan sebagainya. Setelah kegiatan makan selesai, waktu yang tersedia dapat digunakan untuk bermain di dalam atau di luar kelas.
4)      Kegiatan akhir (+30 menit)
Kegatan akhir dilaksanakan secara klasikal, misalnya dengan bercerita, bernyanyi, gotong royong, membersihkan kelas, diskusi kegiatan sehari yang telah dilakukan, informasi kegiatan esok hari, berdo’a, dan mengucapkan salam.
C.    Model Pembelajaran BCCT (Beyond Centre and Circle Time)
Model pembelajaran BCCT adalah pendekatan pembelajaran yang dalam proses pembelajarannya dilakukan di dalam ‘lingkaran” (circle times)  dan sentra bermain. Lingkaran adalah saat di mana guru duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan sebelum dan sesudah bermain. Sentra bermain adalah zona atau area dengan seperangkat sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mengembangkan seluruh potensi dasar anak didik dalam berbagai aspek perkembangan secara seimbang. Sentra yang dibuka setiap harinya disesuaikan dengan jumlah kelompok di setiap PAUD .Sentra bermain terdiri dari sentra bahan alam dan sains, sentra balok, sentra seni, sentra bermain peran, sentra persiapan, sentra agama, dan sentra musik.
Pendekatan ini berusaha untuk merangsang anak agar bermain secara aktif di sentra-sentra permainan. Jadi, anak didiknya yang belajar aktif, bukan gurunya. Anak diperlakukan sebagai “subjek otonom” yang secara liberal mengembangkan kemampuannya secara maksimal. Sementara tugas guru lebih bersifat “pasif” dari pada aktif. Dikatakan “pasif” karena tugas guru hanya sebatas memotivasi, memfasilitasi, mendampingi, dan memberi pijakan-pijakan. Pijakan yang dimaksud di sini adalah dukungan yang berubah-ubah karena disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak atau masa peka (periode sensitif). Ciri khas pijakan dalam pendekatan BCCT adalah duduk melingkar. Inilah alasannya mengapa pendekatan ini disebut “saat lingkaran”.
Dalam mengoptimalkan perkembangan anak disentra yang perlu diperhatikan adalah densitas dan intensitas. Densitas berkaitan dengan keragaman kegiatan yang disediakan, sedangkan intensitas berkaitan dengan waktu yang diperlukan. Untuk merangsang perkembangan anak pada tahapan yang lebih tinggi, pendekatan ini menggunakan empat pijakan, yaitu pijakan lingkungan bermain (persiapan), pijakan sebelum bermain, pijakan selama bermain, dan pijakan setelah bermain.
1.      Pijakan lingkungan bermain (persiapan). Pada pijakan ini, guru lebih aktif daripada anak didik. Sebab, pada pijakan ini guru harus mempersiapkan lingkungan bermain sehingga sebelum anak masuk, area sudah tertata rapi dan siap digunakan bermain.
2.      Pijakan sebelum bermain. Pijakan ini berisi berbagai kegiatan awal, seperti salam pembuka, mengabsen, doa, penjelasan tema materi atau pelajaran, mengawali dengan bernyanyi atau cerita, menyampaikan aturan bermain, dan lain sebagainya. Biasanya, pijakan ini memakan waktu 15 menit atau ¼ jam.
3.      Pijakan selama bermain. Tugas guru selama anak-anak bermain lebih bersifat “pasif” daripada aktif. Tugas mereka hanya sekedar memotivasi, memfasilitasi, dan mendampingi. Bahkan, seandainya anak-anak jatuh sekalipun, guru tidak boleh membantu membangunkannya, kecuali anak-anak benar-benar sakit dan tidak bisa bangun. Pijakan ini berisi berbagai kegiatan, seperti membawa anak-anak ke lokasi bermain. Memberi contoh cara menggunakan alat permainan edukatif, mengumpulkan hasil kerja anak, dan lain sebagainya. Biasanya, pijakan ini memakan waktu selama 60 menit atau satu jam.
4.      Pijakan setelah bermain. Pijakan ini menanamkan sikap tanggung jawab anak didik, di mana setiap anak harus mengembalikan permainan yang diambilnya ke tempatnya semula. Beberapa kegiatan dalam pijakan ini adalah guru memberi instruksi bahwa waktu bermain habis, menginstruksikan mereka agar membersihkan, merapikan, dan mengembalikan semua alat permainan edukatif ke tempatnya semula, mengajukan beberapa pertanyaan seputar hal-hal yang dilakukan anak didik ketika bermain, dan menutupnya.
Semua sentra tersebut dapat dimainkan dengan baik jika pelaksanaannya berpegang pada prinsip-prinsip BCCT, Prinsip pembelajaran dengan pendekatan BCCT antara lain:
a.       Keseluruhan proses pembelajarannya berlandaskan pada teori dan pengalaman empiris.
b.      Setiap proses pembelajaran ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak melalui bermain terencana dan terarah serta dukungan pendidik dalam bentuk pijakan-pijakan.
c.       Menempatkan penataan lingkungan main sebagai pijakan awal yang merangsang anak untuk aktif, kreatif dan terus berfikir dengan menggali pengalamannya sendiri.
d.      Menggunakan standar operasional yang baku dalam proses pembelajarannya.
e.       Mensyaratkan pendidik dan pengelola program untuk mengikuti pelatihan sebelum menerapkan pendekatan ini.
f.       Melibatkan orang tua dan keluarga sebagai satu kesatuan proses pembelajaran untuk mendukung kegiatan anak di rumah.
Tujuan dari model BCCT (Beyond Center and Circle Time) yang dimaknai sebagai sentra dan saat lingkaran adalah sebagai berikut:
1)      Model ini ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak melalui bermain yang terarah.
2)      Model ini menciptakan setting pembelajaran yang merangsang anak untuk aktif, kreatif, dan terus berpikir dengan menggali pengalamannya sendiri (bukan sekedar mengikuti perintah, meniru dan menghafal).
3)      Dilengkapi dengan standar operasional yang baku, yang berpusat di sentrasentra kegiatan dan saat anak berada dalam lingkaran bersama pendidik, sehingga mudah diikuti.).
Setiap sentra mendukung perkembangan anak dalam tiga jenis bermain yaitu bermain sensorimonitor atau fungsional, bermain peran dan bermain konstruktif (membangun pemikiran anak
a)      Bermain sensorimonitor adalah menangkap rangsangan melalui penginderaan dan menghasilkan gerakansebagai reaksinya. Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisikdengan lingkaran mereka. Misalnya menakar air, meremas kertas bekas, mengguntung dan lain-lain.
b)      Bermain peran yaitu terdiri dari bermain simbolik, fantasi, imajinasi, atau bermain drama. Anak bermain dengan benda untuk membantu menghadirkan konsep yang telah dimilikinya.
c)      Bermain konstruktif yaitu menunjukkan mewujudkan pikiran, ide, dan gagasannya menjadi sebuah karya nyata. Ada dua jenis bermain konstrusi, yaitu bermain konstrusi sifat cat (air, spidol, an lain-lain) dan bermain konstrusi terstruktur (balok-balok, lego, dan lain-lain.
Adapun macam-macam sentra bermain antara lain:
(1)   Sentra bahan alam atau sains
Bahan-bahan yang diperlukan di sentra ini adalah daun, ranting, kayu, pasir, air, bata, biji-bijian, dan lain-lain. Alat yang digunakan diantaranya sekop, saringan, ember, dan lain-lain. Sentra ini memfasilitasi anak untuk mengembangkan dan memperluas pengalaman bermain sensorimotor dengan  memberikan banyak kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi bahan-bahan alami dalam mengembangkan kematangan motorik halus yang diperlukan dalam proses kesiapan menulis, keterampilan berolahraga dan menstimulasi sistem kerja otak anak. Manfaat sentra bahan alam atau sains adalah mendukung tahap perkembangan sensorimotor, mendukung tahap perkembangan konstrusi cair (tahap melukis. Tahap playdough),mendukung anak belajar konsep-konsep sains, mendukung anak untuk lebih control, memperkuat fine motor skill. Kegiatan disentra bahan alam atau sains diantaranya kegiatan pembangunan sifat cair, yang banyak menggunakan bahan-bahan bersifat fluid, seperti:air, pasir, biji-bijian, tepung terigu, kegiatan menakar, mengisi maupun pengamatan terhadap kejadian-kejadian sains.
(2)   Sentra balok
Sentra balok berisi berbagai macam balok dalam berbagai bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Disini anak belajar banyak hal dengan cara menyusun/menggunakan balok, mengembangkan kemampuan logika matematika/berhitung permulaan, kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Manfaat sentra balok yaitu dapat mengembangkan keterampilan hubungan dengan teman sebaya, anak mengenal bentuk lingkaran, silindris, segi empat, segitiga dan lainnya, dan anak akan belajar lebih teliti dengan melihat susunan balok yang mereka gunakan. Kegiatan sentra balok bisa dengan cara membangun dengan menggunakan macam-macam bentuk dan ukuran balok.
(3)   Sentra seni
Bahan-bahan yang diperlukan di sentra ini adalah kertas, cat air, krayon, spidol, gunting, kapur, tanah liat, pasir, lilin, kain, daun, potongan-potongan bahan/gambar. Sentra seni memfasilitasi anak untuk memperluas pengalaman dalam mewujudkan ide, gagasan dan pengalaman yang dimiliki anak ke dalam karya nyata (hasil karya) melalui metode proyek. Manfaat sentra seni diantaranya mengembangkan keterampilan motorik halus, kemampuan menggunakan berbagai alat dan bahan, kemampuan estetik anak terhadap karya seni, dan kemampuan bekerja secara sistematis. Kegiatan sentra seni dapat dilakukan dengan cara mewarnai dengan krayon, melukis dengan kuas kecil, kolase, mozaik, finger painting, dan lain sebagainya.
(4)   Sentra bermain peran
Sentra bermain peran merupakan wujud dari kehidupan nyata yang dimainkan anak, membantu anak memahami dunia mereka dengan memainkan berbagai macam benda untuk bermain peran tergantung dari minat anak pada saat itu. Misal, tema “keluarga” dengan alat yang dibutuhkan peralatan dapur dan lain-lain.sentra bermain peran terdapat 2 macam yaitu, sentra main peran besar dan sentra bermain peran kecil. Sentra main peran besara adalah sentra yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan pengertian mereka tentang dunia disekitarnya, kemampuan berbahasa, keterampilan mengambil sudut pandang dan empati melalui main peran yang mengalirkan knowledge pada anak. Main peran disebut juga bermain simbolik, role play, make believe, fantasi, imajinasi, atau bermain drama. Sedangkan Sentra main peran kecil memberikan materi pada anak melalui alat main berukuran kecil. Anak bisa menjadi sebagai dalang yang menggerakkan boneka yang menjadi pemeran. Main peran disebut juga bermain simbolik, role play, make believe, fantasi, imajinasi, atau bermain drama.
(5)   Sentra persiapan
Bahan yang ada pada sentra ini adalah buku-buku, kartu kata, kartu huruf, kartu angka dan bahan-bahan untuk kegiatan menyimak, bercakapan persiapan menulis serta berhitung. Kegiatan yang dilaksanakan adalah persiapan membaca permulaan, menulis permulaan serta berhitung permulaan. Mendorong kemampuan intelektual anak, gerakan otot halus, koordinasi mata-tangan, belajar keterampilan social (berbagi bernegoisasi dan memecahkan masalah). Tujuan Sentra ini fokus pada anak untuk mengurutkan, mengklasifikasikan, mengorganisasikan alat-alat dan bahan kerja, termasuk membaca, berhitung, dan menulis. Sentra ini memiliki aturan yang berbeda dengan sentra lain, hal ini dikarenakan karena sentra ini merupakan sentra kerja. Contoh, anak mengurutkan angka dari yang terbesar hingga terkecil atau sebaliknya. Anak menyusun benda dari terbesar hingga terkecil, atau sebaliknya. Anak mengklasifikasikan benda yang satu warna, benda yang ukurannya sama, benda yang bentuknya sama, atau mengklasifikasikan benda yang ukuran, bentuk dan warnanya sama. Anak membuat pola, menggunting pola, atau membuat sebuah karya dari pola-pola yang mereka buat.
(6)   Sentra agama
Bahan yang dipersiapkan adalah berbagai maket tempat ibadah, perlengkapan ibadah, gambar-gambar, buku-buku cerita keagamaan, dan sebagainya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan beragama, keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang maha esa. Agama merupakan suatu konsep yang abstrak yang perlu diterjemahkan menjadi aktivitas yang konkrit bagi anak.
Manfaat sentra agama diantaranya anak menyukai dan mencintai agamanya sehingga mau melakukan yang diperintahkan oleh Allah secara ikhlas, anak berakhlakul karimah seperti yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, anak dapat belajar awal membaca dan menulis huruf hijaiyah, dan anak dapat praktik langsung cara-cara beribadah yang benar. Kegiatan sentra agama bisa dilakukan dengan cara mengucapkan surat-surat pendek dan doa-doa harian, membaca dan menulis huruf hijaiyah sesuai perkembangan anak, praktik wudhu dan sholat, dan mengenalkan konsep rukun islam dan rukun iman.
(7)   Sentra Musik
Bahan yang dibutuhkan pada sentra musik, misalnya botol beling/kaca, tempurung kelapa, rebana, tutup botol, triangle, dan lain-lain. Sentra music memfasilitasi anak untuk memperluas pengalamannya dalam menggunakan gagasan mereka melalui olah tubuh, bermain musik dan lagu yang dapat memperluas pengalaman dan pengetahuan anak tentang irama, birama (ketukan), dan mengenal berbagai bunyi-bunyian dengan menggunakan alat-alat musik yang mendukung, misalnya pianika, piano, rebana, dan lain-lain.
Berikut kelebihan model pembelajaran BCCT (Beyond centre and circle time)
(a)    Mampu memberikan pengalaman bermain secara lebih lengkap dan mendalam melalui pembagian sentra-sentra dalam lingkaran.
(b)   Lebih fleksibel dan konstektual, sehingga pendekatan ini lebih sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Dan kekurangan Model Pembelajaran BCCT (Beyond centre and circle time)
(a)    Pendekatan sentra dan lingkaran menghalangi kebebasan anak untuk memilih lebih dari satu permainan.
(b)   Tidak bisa beralih dari satu permainan ke permainan yang lain sebelum menyelesaikan permainan yang disajikan guru. Dengan demikian, pendekatan Sistem Area memberikan pengalaman bermain yang luas namun dangkal, sedangkan pendekatan area memberikan pengalaman bermain yang mendalam tetapi sempit sehingga pendekatan ini lebih sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
D.    Model Pembelajaran Area (Minat)
Model Pembelajaran Area disebut juga dengan model pembelajaran berdasarkan minat, karena model pembelajaran ini yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih/melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Tetapi anak-anak tetap harus di bawah pengawasan pendidik, model pembelajaran ini mengajarkan cara bertanggung jawab dengan merapikan permainannya setelah bermain, mandiri, kreatif, sehingga anak dapat membuat kesimpulan sendiri dari setiap hal yang dipelajarinya.
Model ini merupakan pendekatan yang sangat efektif yang dikembangkan dalam pembelajaran secara individu. Pendekatan ini sangat membantu anak dalam mengumpulkan benda-benda yang telah disusun disekitar satu atau lebih dimana anak dapat berinteraksi dengan media tersebut. Dengan demikian kemampuan anak dalam belajar lebih optimal, anak lebih sibuk bergerak melakukan atau aktif belajar yang telah dipilihnya. Dengan sistem area ini pengalaman belajar anak lebih banyak dan anak lebih kreatif.
Pembelajaran berdasarkan minat menggunakan 10 area, yakni: area agama, balok, bahasa, drama, berhitung, atau matematika, IPA, seni atau motorik, pasir dan air, membaca, dan menulis.
Area belajar pada pembelajaran berdasarkan minat antara lain :
1.      Area ibadah/imtak  yang terdiri dari Maket mushola, gambar  tata cara solat dan wudhu, sajadah, mukena, sarung, peci, alquran, kartu huruf hiyaiyah, buku iqra`, juz `amma, dan sebagainya yang meliputi  alat-alat permainan lima aspek rukun islam dari kalimat syahadat sampai dengan haji.
2.      Area balok Balok-balok berbagai ukuran dan warna, logo, lotto sejenis dan berpasangan, kepingan geometri,  kubus berpola, kubus berbagai ukuran dan warna bola berbagai ukuran dan warna, dan lain sebagainya.
3.      Area berhitung/matematika yang terdiri dari lambang bilangan, kepingan geometri, kartu angka, puzzle, ukuran panjang pendek, konsep bilangan, kubus permainan, pohon hitung, papan jamur, ukuran tebal tipis, tutup botol,pensil, manic-manik, gambar buah-buahan, penggaris meteran, buku tulis, puzzle busa (angka), kalender, gambar bilangan, papan pasak, jam, kartu gambar, kartu berpasangan dan lain sebagainya.
4.      Area ipa  yang terdiri dari acam-macam gambar binatang, gambar-gambar proses  pertumbuhan tanaman, biji-bijian (jagung, kacang tanah, kacang hijau, beras), kerang, batu kerikil, pasir, bunga karang, magnet, mikroskop, kaca pembesar, pipet, tabung ukur, timbangan kue, gelas ukuran, gelas pencampur warna, nuansa warna, meteran, penggaris,benda-benda kasar halus, (batu, batu-bata,, amplas, kayu,  dan kapas) benda-benda pengenalan berbagai macam rasa (gula, kopi, asam, cuka, garam, sirup, cabe, dan lain-lain), berbagai macam bumbu (bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar, kemiri, lengkuas, daun salam, jahe, kunyit, jinten, dan lain-lain).
5.      Area musik yang terdiri dari Seruling, organ kecil, gitar kecil, angklung, piano,  tamburin, kerincingan, triangle, wood block, kulintang, biola, harmonica, gendang, rebana, dan lain sebagainya
6.      Area bahasa yang terdiri dari Buku cerita, gambar seni, boneka tangan, kartu kategori kata, panggung boneka, papan planel,kartu nama-nama hari, kartu nama-nama bulan, majalah pesertadidik,Koran, macam-macam gambar sesuai tema, dan sebagainya.
7.      Area menulis dan membaca yang terdiri dari Buku perpustakaan, buku tulis, pensil warna, pensil 2B, kartu huruf, kartu kata, kartu gambar,  dan sebagainya.
8.      Area drama yang terdiri dari Tempat tidur peserta didik dan boneka, lemari kecil, meja-kursi kecil, meja tamu, boneka-boneka, tempat jemuran, tempat gososkan,setrikaan, baju-baju besar, handuk, bekas make-up, minyak wangi, sisir, kompor-komporan, penggorengan, dandang tiruan, piring sendok, gelas, garpu, cangkir, teko, keranjang belanja, pisau mainan, ulekan (cobek), mangkok, tas, sepatu, sandal, rak sepatu, cermin, mixer, blender, sikat gigi, pasta gigi, telepon-teleponan, baju tentra dan polisi, baju dokter-dokteran, dan sebagainya.
9.      Area pasir/air yang terdiri dari Bak pasir/air, akuarium kecil, ember kecil, gayung, garpu, botol plastic, tabung air, cangkir plastic, literan air, corong, sekop kecil, saringan pasir, serokan, penyiram tanaman  dan sebagainya.
10.  Area seni dan motorik yang terdiri dari Meja gambar, meja kursi , krayon, pensil berwarna, pensil 2B, kapur tulis, arang, buku gambar, kertas lipat, kertas Koran, lem, gunting, kertas warna, kertas kado, kertas bekas, bahan sisa, buku gambar, dan sebagainya. Model pembelajaran berdasarkan minat ini terdiri atas tiga kegiatan, yakni awal, inti, dan akhir.
a.       Kegiatan awal disampaikan guru secara klasikal, seperti salam pembuka, bernyanyi, berdoa, bercerita pengalaman anak, penjelasan tema materi, dan melakukan kegiatan fisik motorik. Biasanya kegiatan ini memakan waktu 30 menit.
b.      Kegiatan inti disampaikan guru individual di area, seperti membicarakan tugas di area kemudian anak didik bebas memilih area mana yang disukai sesuai dengan minatnya. Anak dapat berpindah sesuai dengan minatnya tanpa ditentukan oleh guru, kemudian guru menilai dengan observasi, penugasan, hasil karya, dan unjuk kerja. Kegiatan inti dilaksanakan kurang lebih 60 menit.
c.       Istirahat atau makan selama 30 menit.
d.      Kegiatan akhir berisi cerita, menyanyi, dan berdoa selama 30 menit yang disampaikan secara klasikal.18 Sistem Area lebih menekankan pada belajar sambil bermain atau bermain seraya belajar. Artinya, aspek pelajaran dikemas dalam bentuk permainan, sehingga anak-anak belajar dengan cara bermain. Anak didik bermain sesuai dengan minat masing-masing. Mereka berhak memilih area mana yang akan dilakukan olehnya dari minimal empat area yang disesuaikan oleh guru dalam setiap harinya. Meskipuna anak didik berhak memilih, tetapi mereka diharapkan mentelesaikan semua area yang disiapkan oleh guru.
Berikut kelebihan model pembelajaran area (Minat)
1)   Adanya kebebasan minat anak didik untuk bermain sesuatu yang mereka inginkan tanpa adanya tekanan yang berarti.
2)   Hampir tidak ada batasan atau tekanan dalam pendekatan ini. Jika guru mampu memfasilitasi setiap permainan yang diminati anak didik, mereka akan memperoleh pengalaman belajar yang mendalam atas permainan yang dipilihnya tersebut.
Dan berikut kekurangan model pembelajaran area (Minat)
1)      Menekankan belajar berdasarkan minat adalah anak didik hanya memilih satu atau dua area permainan yang memang benar-benar menjadi minatnya. Sementara area permainan lain yang mungkin justru sangat penting tidak dipilihnya karena tidak diminati.
2)      Terbukanya kemungkinan anak untuk berpindah area mainan berkali-kali sebelum anak tersebut menyelesaikan area permainan awalnya. Sebab, sistem area memungkinkan untuk menjalankan pembelajaran pada minimal empat area sekaligus.
Referensi
Hijriati. PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN  ANAK USIA DINI. Volume III. Nomor 1. Januari – Juni 2017
Ine Rahaju. 2014. Analisis  Penyelengaraan  Pendidikan  Anak Usia Dini  Yang Menggunakan  Model  Beyond Center And Circle Time  Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kulsum, Umi. Konsep Dasar PAUD. Jati Agung, Lampung Selatan: Sekolah Tinggi Agama Islam An-nur Lampung. 2016 
Mukhtar Latif, Zukhairina, dkk. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP. 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar