Kamis, 01 November 2018

ANAK YANG ENURESIS DAN ENCOPRESIS



Enuresis (Mengompol) dan Encopresis (Buang Air Besar)

A.    Pengertian Enuresis (Mengompol)
Enuresis adalah mengompol atau buang air kecil dicelana, seperti disekolah ataupun pada saat tidur. Secara biologis, anak usia TK sudah tidak lagi mengompol, karena otot-otot yang mengatur kontraksi urin sudah berkembang secara sempurna.
Di dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders IV (American Psychiatric Association, 1995) ada tiga  kategori enuresis, yaitu:
1.      Nocturnal enuresis, yaitu mengompol pada malam hari, (tidur).
2.      Diurnal enuresis, yait mengompol pada siang hari, (sedang beraktivitas).
3.      Nocturnal dan diurnal, kebiasaan mengompol dengan baik pada siang maupun malam hari.
Ada dua tipe enuresis berdasarkan lamanya waktu prilaku tersebut muncul yaitu:
a.       Enuresis berkesinambungan. Ini terjadi dari sejak lahir dan berkelanjutan. Biasanya tipe ini sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis yang berkaitan dengan mekanisme kontrol urin, ataupun disebabkan gagalnya latihan dari sejak dini atau membuang air kecil dikamar mandi.
b.      Enuresis tidak berkesinambungan. Mengompol ini terjadi kembali 
setelah dalam jangka waktu tertentu anak-anak tidak mengompol lagi.
B.     Pengertian Encopresis (Buang Air Besar di Celana)
Encopresis adalah buang air besar disembarangan tempat, baik itu di dalam kelas  maupun di celana. Seperti halnya enuresis, pada anak usia TK harusnya hal ini sudah tidak terjadi lagi.
   Menurut Sutadi dan Deliana (1996) ada beberapa tipe encopresis yaitu:
1.      Tipe kontinue
Terjadi pada anak yang tidak pernah diberi latihan kebersihan, sehingga tidak mengerti apa ynag harus dilakukan sesuai dengan norma yang ada. Anak-anka ini biasanya berasal dari keluarga yang status sosial ekonomi yang rendah. Anak yang mengalami tipe ini ditandai dengan sifat tidak patuh pada aturan,agresif dan belum mengerti rasa malu.
2.      Tipe diskontinyu
Terjadi pada anak yang terlalu dipaksa dan dikontrol pengeluaran tinjanya. Biasanya pola asuh yang diterapkan oleh orang tua cenderung kaku dan otoriter sehingga anak merasa dipaksa dan takut.  Perasaan ini menyebabkan anak semakin cemas untuk mengontrol pengeluaran tinjanya.
3.      Tipe retentif
Tipe ini mempunyai ciri bila ditanya apakah ia ingin buang air besar, anak akan menjawab “tidak” bahkan cenderung akan mengeluarkan reaksi negatif. Namun, tidak lama kemudian anak akan mengeluarkan kotorannya.
C.    Penyebab Enurosis Dan Encopresis
1.      Fisiologis yaitu adanya gangguan pada mekanisme pengontrolan urin atau buang air besar pada tubuh anak seperti infeksi saluran kencing, gangguan ginjal, gangguan pencernaan,atau metabolisme tubuh, atau bisa juga karena trauma fisik seperti benturan ditulang belakangnya akibat jatuh atau terbentur dengan keras.
2.      Psikologis yaitu anak merasa takut atau cemas disebabkan beberapa hal misalnya karena merasa terancam oleh teman,  tidak berani bicara dengan pendiddik (gurunya), keadaan sekolah yang dianggap tidak “ramah” atau karena ketakutan terhadap orangtua. Selain itu, disebabkan hadirnya adik baru. Dalam hal ini anak menjadi cemburu dan ingin diperhatikan. Akibatnya anak akan melakukan tindakan yang membuat orangtuanya kembali memeberikan perhatian kepadanya.
3.      Hal lain. Misalnya karena faktor kelelahan karena banyaknya aktivitas motorik yang dilakukan anak, terlalu banyak minum, kebiasaan yang tidak teratur atau suhu yang sangat dingin.
D.    Gejala yang Tampak Pada Enuresis dan Encopresis.
Gejala yang tampak pada anak biasanya anak berkeringat dingin, gugup, atau menangis pada saat menahan buang air kecil atau buang air besar namun ia sendiri tidak tahu melakukan apa seperti yang sudah disebutkan umumnya anak memiliki sifat cenderung pasif dan pendiam sehingga sulit untuk mengemukakan maksudnya. Dibandingkan encopresis hal yang paling sering terjadi di TK adalah enuresis.
E.     Pengaruh Enuresis dan Encopresis Terhadap Perkembangan Anak
1.      Fisiologis. Bila hal ini idak diterapi secara medis, maka akan menyebabkan kondisi anak semakin parah dan semakin sulit untuk diterapi.
2.      Psikologis. Anak akan menjadi malu, rendah diri dan tidak percaya diri ditambah lagi ia akan mendapatkan ejekan atau pemberian “gelar” oleh temannya si ngompol, atau si bau. Yang megakibatkan anak merasa tidak aman dan nyaman berada dilingkungan teman-temannya.
F.     Intervensi Enuresis dan Encopresis
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pendidik disekolah untuk mengatasi enuresis dan encopresis, yaitu:
1.      Mencari tahu penyebab mengapa anak melakukan hal itu disekolah.
2.      Bila enuresis dan encopresis disebabkan oleh kelainan fisik, mjaka pendidik harus berkonsultasi dengfan orang tua, atau ahli, psikiater atau psikolog anak.
3.      Pada saat anak melakukan enuresis atau encopresis jangan dimarahi, sebab hal tersebut tidaklah mengurangi atau mememcahkan masalah.
4.      Memeberikan penjelasan akibatnya dengan menggunakan anak tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dampak negatif yang didapatkan bila ia melakukan enuresis dan encopresis.
5.      Bila anak berhasil melakukan cara dan tempat yang tepat pendiddik memberikan apresiasi atau pujian terhadap anak.
Cara lain mengintervensi antara lain ada 2 macam yaitu:
1)      Bowel control
   Yang dimaksud dengan bowel control adalah kemampuan anak untuk menahan dan melepaskan keinginan buabg air besar. Rata-rata anak mulai dapat dilatih melakukan kontrol setelah usia 18 bulan sampai 2 tahun. Namun sebagian anak perempuan dapat memeberikan toilet training lebih dini daripada anak laki-laki. Yaitu, usia 2 tahun untuk anaka perempuan dan 3 tahun untuk anak laki-laki.
   Pada saat inilah orang tua atau pendidik dapat menuntunya ke kamar mandi dan melakukan langkah berikut:
a)      Dengan sikap tenang dudukan anak pada kloset atau pispot.
b)      Katakan dengan lembut dan jelas bahwa inilah tempat untuk membuang air besar dan kecil.
c)      Pada mulanya, orang tua atau pendidik cukup melatih anak 2 kali sehari. Beri pujian bila anak berhasil buang air besar tanpa banyak kesulitan. Namun , ingatlah agar tidak terlalu memebesar-besarkan keberhasilan karena bagaimanapun juga ini merupakan proses yang sangat alami. Dan jangan memarahi jika anak tidak berhasil.
2)      Bladder control
   Bladder control adalah kemampuan anak menahan dan melepaskan keinginan buang air kecil. Bladder control memerlukan waktu lebih lama dibandingkan bowel control. Setelah usia 16 bulan, anak dapat menahan air seni dalam jangka waktu 2 jam. Bladder control biasanya belum sempurna sebelum anak berusia 5 tahun. Dalam melatih anak untuk tidak mengompol, perlu diperhatikan beberapa hala berikut:
a)      Orang tua atau pendidik harus siap sedia mengkuti pola buang air kecil anak yang belum teratur.
b)      Ajarkan anak agar memberi tanda atau bicara, bila ingin buang air kecil, sebelum membasahi celananya.

Referensi
Izzaty, Rita Eka. Perilaku Anak Prasekolah.  Jakarta: Kompas Gramedia. 2017.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar