Enuresis (Mengompol) dan Encopresis (Buang Air Besar)
A.
Pengertian
Enuresis (Mengompol)
Enuresis adalah mengompol atau buang air kecil dicelana, seperti
disekolah ataupun pada saat tidur. Secara biologis, anak usia TK sudah tidak
lagi mengompol, karena otot-otot yang mengatur kontraksi urin sudah berkembang
secara sempurna.
Di dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders IV
(American Psychiatric Association, 1995) ada tiga kategori enuresis, yaitu:
1.
Nocturnal
enuresis, yaitu mengompol pada malam hari, (tidur).
2.
Diurnal
enuresis, yait mengompol pada siang hari, (sedang beraktivitas).
3.
Nocturnal
dan diurnal, kebiasaan mengompol dengan baik pada siang maupun malam hari.
Ada dua tipe
enuresis berdasarkan lamanya waktu prilaku tersebut muncul yaitu:
a.
Enuresis
berkesinambungan. Ini terjadi dari sejak lahir dan berkelanjutan. Biasanya tipe
ini sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis yang berkaitan dengan mekanisme
kontrol urin, ataupun disebabkan gagalnya latihan dari sejak dini atau membuang
air kecil dikamar mandi.
b.
Enuresis
tidak berkesinambungan. Mengompol ini terjadi kembali
setelah
dalam jangka waktu tertentu anak-anak tidak mengompol lagi.
B.
Pengertian
Encopresis (Buang Air Besar di Celana)
Encopresis
adalah buang air besar disembarangan tempat, baik itu di dalam kelas maupun di celana. Seperti halnya enuresis,
pada anak usia TK harusnya hal ini sudah tidak terjadi lagi.
Menurut Sutadi dan Deliana
(1996) ada beberapa tipe encopresis yaitu:
1.
Tipe
kontinue
Terjadi pada anak yang tidak pernah diberi latihan kebersihan,
sehingga tidak mengerti apa ynag harus dilakukan sesuai dengan norma yang ada.
Anak-anka ini biasanya berasal dari keluarga yang status sosial ekonomi yang
rendah. Anak yang mengalami tipe ini ditandai dengan sifat tidak patuh pada
aturan,agresif dan belum mengerti rasa malu.
2.
Tipe
diskontinyu
Terjadi pada anak yang terlalu dipaksa dan dikontrol pengeluaran
tinjanya. Biasanya pola asuh yang diterapkan oleh orang tua cenderung kaku dan
otoriter sehingga anak merasa dipaksa dan takut. Perasaan ini menyebabkan anak semakin cemas
untuk mengontrol pengeluaran tinjanya.
3.
Tipe
retentif
Tipe ini mempunyai ciri bila ditanya apakah ia ingin buang air
besar, anak akan menjawab “tidak” bahkan cenderung akan mengeluarkan reaksi
negatif. Namun, tidak lama kemudian anak akan mengeluarkan kotorannya.
C.
Penyebab
Enurosis Dan Encopresis
1. Fisiologis yaitu adanya gangguan pada mekanisme pengontrolan urin
atau buang air besar pada tubuh anak seperti infeksi saluran kencing, gangguan
ginjal, gangguan pencernaan,atau metabolisme tubuh, atau bisa juga karena
trauma fisik seperti benturan ditulang belakangnya akibat jatuh atau terbentur
dengan keras.
2. Psikologis yaitu anak merasa takut atau cemas disebabkan beberapa
hal misalnya karena merasa terancam oleh teman,
tidak berani bicara dengan pendiddik (gurunya), keadaan sekolah yang
dianggap tidak “ramah” atau karena ketakutan terhadap orangtua. Selain itu,
disebabkan hadirnya adik baru. Dalam hal ini anak menjadi cemburu dan ingin
diperhatikan. Akibatnya anak akan melakukan tindakan yang membuat orangtuanya
kembali memeberikan perhatian kepadanya.
3. Hal lain. Misalnya karena faktor kelelahan karena banyaknya
aktivitas motorik yang dilakukan anak, terlalu banyak minum, kebiasaan yang
tidak teratur atau suhu yang sangat dingin.
D.
Gejala
yang Tampak Pada Enuresis dan Encopresis.
Gejala yang tampak pada anak biasanya anak berkeringat dingin,
gugup, atau menangis pada saat menahan buang air kecil atau buang air besar
namun ia sendiri tidak tahu melakukan apa seperti yang sudah disebutkan umumnya
anak memiliki sifat cenderung pasif dan pendiam sehingga sulit untuk
mengemukakan maksudnya. Dibandingkan encopresis hal yang paling sering terjadi
di TK adalah enuresis.
E.
Pengaruh
Enuresis dan Encopresis Terhadap Perkembangan Anak
1.
Fisiologis.
Bila hal ini idak diterapi secara medis, maka akan menyebabkan kondisi anak
semakin parah dan semakin sulit untuk diterapi.
2.
Psikologis.
Anak akan menjadi malu, rendah diri dan tidak percaya diri ditambah lagi ia
akan mendapatkan ejekan atau pemberian “gelar” oleh temannya si ngompol, atau
si bau. Yang megakibatkan anak merasa tidak aman dan nyaman berada dilingkungan
teman-temannya.
F.
Intervensi
Enuresis dan Encopresis
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pendidik disekolah untuk
mengatasi enuresis dan encopresis, yaitu:
1.
Mencari
tahu penyebab mengapa anak melakukan hal itu disekolah.
2.
Bila
enuresis dan encopresis disebabkan oleh kelainan fisik, mjaka pendidik harus
berkonsultasi dengfan orang tua, atau ahli, psikiater atau psikolog anak.
3.
Pada
saat anak melakukan enuresis atau encopresis jangan dimarahi, sebab hal tersebut
tidaklah mengurangi atau mememcahkan masalah.
4.
Memeberikan
penjelasan akibatnya dengan menggunakan anak tentang apa yang seharusnya
dilakukan dan dampak negatif yang didapatkan bila ia melakukan enuresis dan
encopresis.
5.
Bila
anak berhasil melakukan cara dan tempat yang tepat pendiddik memberikan
apresiasi atau pujian terhadap anak.
Cara lain mengintervensi antara lain ada 2 macam yaitu:
1)
Bowel
control
Yang dimaksud dengan
bowel control adalah kemampuan anak untuk menahan dan melepaskan keinginan
buabg air besar. Rata-rata anak mulai dapat dilatih melakukan kontrol setelah
usia 18 bulan sampai 2 tahun. Namun sebagian anak perempuan dapat memeberikan
toilet training lebih dini daripada anak laki-laki. Yaitu, usia 2 tahun untuk
anaka perempuan dan 3 tahun untuk anak laki-laki.
Pada saat inilah orang tua atau pendidik dapat menuntunya ke kamar
mandi dan melakukan langkah berikut:
a)
Dengan
sikap tenang dudukan anak pada kloset atau pispot.
b)
Katakan
dengan lembut dan jelas bahwa inilah tempat untuk membuang air besar dan kecil.
c)
Pada
mulanya, orang tua atau pendidik cukup melatih anak 2 kali sehari. Beri pujian
bila anak berhasil buang air besar tanpa banyak kesulitan. Namun , ingatlah
agar tidak terlalu memebesar-besarkan keberhasilan karena bagaimanapun juga ini
merupakan proses yang sangat alami. Dan jangan memarahi jika anak tidak
berhasil.
2)
Bladder
control
Bladder control adalah kemampuan anak menahan dan melepaskan
keinginan buang air kecil. Bladder control memerlukan waktu lebih lama
dibandingkan bowel control. Setelah usia 16 bulan, anak dapat menahan air seni
dalam jangka waktu 2 jam. Bladder control biasanya belum sempurna sebelum anak
berusia 5 tahun. Dalam melatih anak untuk tidak mengompol, perlu diperhatikan
beberapa hala berikut:
a)
Orang
tua atau pendidik harus siap sedia mengkuti pola buang air kecil anak yang
belum teratur.
b)
Ajarkan
anak agar memberi tanda atau bicara, bila ingin buang air kecil, sebelum
membasahi celananya.
Referensi
Izzaty,
Rita Eka. Perilaku Anak Prasekolah. Jakarta: Kompas Gramedia. 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar