MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI
A. Pengertian
Bermain Kreatif
1. Pengertian bermain
Bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan
dengan mempergunakan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan
pengertian, memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan dapat
mengembangkan imajinasi anak. Bermain menurut Mulyadi secara umum sering di
kaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima
pengertian bermain:
a.
Sesuatu
yeng menyenangkan dan memiliki nilai intinsik pada anak
b.
Tidak
memiliki tujuan Ekstrinsik, motifassinya lebih bersifat Instrinsik
c. Bersifat
spontan dan suka rela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebass di pilih oleh
anak
d.
Melibatkan
peran aktif keikut sertaan anak
e.
Memiliki
hubungan sisitematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti
kreatifitas, belajar bahsa, perkembanngan sosial dan sebagainya.
Bermain, jika di
tinjau dari sumber kegembiraannya dibagi menjadi dua yaitu, bermain aktif dan
bermain pasif. Sedangkan jika di tinjau dari aktifitasnya, bermain dapat di
bagi menjadi empat yaitu bermain fisik, bermain kreatif, bermain imajinatif,
dan bermain manipulatif. Jenis bermain tersebut juga merupakan ciri bermain
pada anak usia pra seukolah dengan menekankan permainan dengan alat (balok, bola, dan sebagainya) dan drama.
2. Pengertian kreatifitas
Istilah kreatif secara tunggal didefinisikan sebagai (1)
memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, (2) bersifat
(mengundang) daya cipta. Berdasarkan dimensi dari sudut bahasa tersebut,
istilah kreatif merujuk pada kemapauan seseorang untuk menciptakan suatu karya
dan seseorang yang sudah memiliki daya cipta untuk menciptakan suatu karya. Kreatif
dapat di maksudkan menjadi berfikir untuk mencipta (creativemind) dimilki oleh
banyak orang terkenal yang selalu leluasa bereksplorasi di ranah konvergen dan
divergen. Kreatifitas merupakan aktualisasi diri dalam berbagai sisi terkait
dengan kecerdasan. Kretaifitas di gambarkan sebagai bentuk kegiatan imajinasi
yang di tampilkan sebagai sesuatu yang orisinil yang memberi manfaat dan
bernilai. Kegiatan kreatif bermula dari kegiatan imajinatif yang bermesinkan
pemikiran tentang kemungkinan- kemungkingan.
Mengutip pernyataan Mayesti, bagi seorang anak, bermain
adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermian
adalah hidup dan hidup adalah bermain, oleh sebab itu seorang pemerhati anak
sekaligus penulis buku Yuliani Nurani Sujino mencoba mengebangankan sebuah
permainan kreatif yang di peruntukan dalam mengembangkan kkurikulum PAUD,
peneliti ini mencoba menerapkan konsep belajar bermain kreatif yang di kembangkan
oleh Sujino untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan dan berhitung
permulaan di mana belajar ini benar-benar memberikan kesempatan anak berman
sambil berkreasi karena oleh Docket dan Fleer berpendapata bahwa bermain
merupakan kebutuhan bagi anak karena melalui bermain anak akan memperoleh
pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan diringya. Dari teori inilah para
peneliti beramsumsi bahwa mengembangkan kemampuan membaca dan berhitung anak
dapat di kembangkan dengan konsep belajar dengan bermain kreatif.
B. Model
Pembelajaran Kreatif
Konsep mengenai model kreatif di Pendidikan Anak Usia
Dini erat kaitannya dengan konsep bermain. Makna pembelajaran kreatif erat
kaitannya dengan pemikiran Jean Piaget mengenai cognitive-gevelopment perspective, fokus pada bagaimana anak
berfikir dan bagaimana pemikiran mempengaruhi perkembangan mereka. Piaget
percaya bahwa anak-anak dapat tumbuh secara alamiah untuk menjelajah dunianya.
Pemikiran tersebut sesuai dengan istilah kreatif yang berarti menciptakan.
Piaget berpandangan bahwa anka-anak dapat menciptakan suatu karya secara
alamiah, dan proses kretaif tersebut dapat di tumbuhkan melalui pembelajaran-pembelajaran
yang alamiah. Pandangan sosial, yakni proses belajar anak-anak tidak dapat
terlepas dari aksi (aktifitas) dan interaksi, karna persepsi dan aktifitas
berjalan seiring dengan adanya komunikasi mengenai pembelajaran kretaif juga di
smapaikan oleh Vygotsky melalui teori contextual
perspektive, yakni anak-anak dapat belajar dan berkembang melalui interaksi
budayanya yang di turunkan oleh peran orang tua atau peran orang lain dewasa
lainnya. Yang dimaksud dengan intraksi tersebut, adalah anak-anak tidak lepas
dari konteks.
Belajar kreatif menurut pandangan Vygotsky adalah adanya
aktifitas, interaksi dan komunikasi antara anak dengan lingkungannya sebagai
konteks sosial.
C. Ciri
Khas Model Pembelajaran Kreatif
Berikut ini adalah ciri khas model pembelajaran kreatif
yang kemudian dapat dioperasionalkan menjadi indikator, diantaranya:
1.
Kegiatan
pembelajaran yang imajinatif, seperti mendongeng dan bermain drama
2.
Kegiatan
pembelajaran yang mengasah kemampuan berpikir anak, seperti mengenali berbagai
bunyi yang pernah didengar, menyebutkan hari-hari dalam satu minggu.
3.
Kegiatan
pembelajaran yang menciptakan berbagai kemungkinan-kemungkinan dari suatu
permasalahan.
4.
Kegiatan
pembelajaran yang mengasah kemampuan bertanya anak, seperti guru bercerita
tentang binatang purbakala.
5.
Kegiatan
pembelajaran yang seperti bermain, seperti menendang bola, bermain peran.
6.
Kegiatan
pembelajaran yang melibatkan interaksi sosial, seperti kerja kelompok.
7.
Kegiatan
pembelajaran yang bertahap sesuai kemampuan anak, seperti untuk kelompok anak
usia 2 tahun yang sudah dapat berjalan dengan lancar, rencana pembelajaran yang
berisi latihan berdiri tentunya tidak menantang anak untuk berkembang lebih
lanjut. Sebaliknya untuk kelompok anak tersebut yang belum mengenal warna,
kegiatan untuk membuat pola warna tidak akan dapat dicapai anak.
8.
Kegiatan
pembelajaran yang menghasilkan produk baru, seperti tari kreasi untuk anak usia
dini.
9.
Kegiatan
pembelajaran yang aktif.
10. Kegiatan pembelajaran yang membuat anak berani.
D. Tata
Ruang Atau Area Bermain Kreatif
Tata runag atau area bermain kreatif ini dilandasi oleh
teori Piaget dengan pendekatan konstruktivisme yang berpusat pada anak. Ruang-ruang
ditata sedemikian rupa dengan sangat selektif. Berikut ini terdapat area
berdasarkan minat anak, diantaranya :
1.
Permainan
Balok
Pusat
permainan balok dipenuhi berbagai macam balok dalam berbagai macam bentuk dan
ukuran untuk menciptakan berbagai bentuk bangunan, kota, pertanian, kebun
binatang dan lain-lainnya secara imajinatif. Melalui kegiatan 14 bermain balok,
anak dapat mengembangkan logika matematika, kemampuan berfikir dan memecahkan
masalah, kreativitas serta daya konsentrasi. Material yang terdapat pada pusat
kegiatan ini diantaranya Balok kayu, Balok plastik, Lassy, Mobil mainan.
2.
Drama
peran
Pusat
drama dapat membantu anak untuk lebih mengenal kehidupan mereka. Pada pusat
ini, dapat disediakan benda-benda yang dapat mendorong anak untuk memperagakan
apa yang mereka lihat di kehidupan mereka. Material 13 yang terdapat pada pusat
kegiatan ini diantaranya Baju-baju, Cermin, Berbagai jenis boneka, Alat
permainan memasak, Mobil-mobilan, Telepon.
3.
Memasak
Pusat
memasak memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami proses dan reaksi
ilmiah, mencicipi makanan-makanan baru, menyantap makanan yang mereka buat,
memahami konsep matematika seperti
menimbang. Kegiatan memasak juga memberikan kesempatan kepada anak untuk
bersosialisasi, belajar berbagi, dan bejkerja sama. Material yang terdapat pada
pusat kegiatan ini diantaranya Peralatan makan (piring, sendok, garpu, pisau),
Perlatan memasak (kompor, panci, wajan).
4.
Pasir
dan air
Wilayah
ini menawarkan banyak kesempatan kepada anak untuk menggunakan panca indera
mereka dengan cara mengeksplorasi bahan-bahan alami. Melalui kegiatan itu, anak
dapat berfikir dan berkomunikasi. Mereka dapat melatih otot halus dan kasar. Di
sini dapat dikembangkan konsep matematika, gagasan ilmiah serta kreativitas.
Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya pasir laut, Bak
pasir, Bak air, Mainan pasir, Perahu mainan Gayung, Teko, Gelas ukuran botol,
Pipa dll.
5.
Kesenian
Pusat
kesenian mendorong anak-anak untuk mengembangkan dan mengeksplorasi kreativitas
mereka serta bersenang-senang dengan bahan-bahan baru dan pengalaman fisik.
Pusat seni dapat memacu kreativitas, komunikasi verbal dan non verbal, percaya
diri, perkembangan motorik halus dan kasar serta kemampuan inteklektual.
Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya Kertas, Buku gambar,
Cat air/cat poster, Krayon, Pensil warna, Spidol, Roncean.
E. Tujuan
dan Manfaat Pembelajaran Bermain Kreatif
1.
Manfaat
model pembelajaran berain kreatif Dengan bermain dapat membantu anak dalam
mengembangkan banyak aspek fundamental dari perkembangan anak, baik fisik,
intelektual, sosial dan emosional.
a.
Bermain
dapat mengembangkan otot-otot disaat anak melakukan kegiatan fisiknya.
b.
Bermain
dapat mengembangkan keterampilan intelektual disaat anak terlibat dalam
aktivitas-aktivitas yang menuntut pikirannya.
c.
Bermain
dapat megembangkan keterampilan sosial disaat sejumlah anak terlibat aktif
dalam suatu interaksi dengan orang lain.
d.
Bermain
dapat mengembangkan aspek emosi disaat anak belajar mengendalikan
emosinya.
2.
Tujuan
pembelajaran bermain kreatif
Berikut
adalah tujuan adanya pembelajaran bermain kreatif diantaranya:
a.
Memberikan
kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Ia dapat bereksperimen
dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak.
b.
Memberikan
anak kesenangan dan kepuasana diri yang sangat besar dan penghargaan yang
memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya.
c.
Memerikan
kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai
kesempatan untu merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu
denga cara-cara baru
d.
Berikan
kesempatan pada anak untuk berfikir, bertindak imajinatif, dan penuh daya
khayalan.
Referensi
Djoehaeni,
Heny. Pengembangan Potensi Anak Usia Dini
melalui Penerapan Kelas yang Berpusat pada Anak. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197007241998022-HENY_DJOEHAENI/JURNAL-PENDEKATAN_KELAS_BERPUSAT_PADA_ANAK.pdf
Jakar
Is, M., etc. Konsep Belajar Dengan
Bermain Kreatif Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Berhitung
Permulaan Pada Anak Usia Dini, Lentera :
Vol. 14, No. 1, Januari 2014.
Nuraeni,
Siti. Model Pembelajaran Kreatif. https://celoteheni.files.wordpress.com/2017/01/model-pembelajaran-kreatif-di-paud.pdf.
S. Sa’ud, Udin. Model-model
Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/195306121981031-UDIN_SYAEFUDIN_SA%27UD/Model_Pembelajaran_PADU.pdf
SKB, Asolihin. Makalah
Bermain Kreativitas Anak Usia Dini.
https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.co.id/2014/04/makalah-bermain-dan-kreativitas-anak.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar