Kamis, 01 November 2018

MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI

MODEL PEMBELAJARAN BERMAIN KREATIF UNTUK ANAK USIA DINI
A.    Pengertian Bermain Kreatif
1.      Pengertian bermain
Bermain diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan mempergunakan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian, memberikan informasi, memberikan kesenangan, dan dapat mengembangkan imajinasi anak. Bermain menurut Mulyadi secara umum sering di kaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain:
a.       Sesuatu yeng menyenangkan dan memiliki nilai intinsik pada anak
b.      Tidak memiliki tujuan Ekstrinsik, motifassinya lebih bersifat Instrinsik
c.     Bersifat spontan dan suka rela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebass di pilih oleh anak
d.      Melibatkan peran aktif keikut sertaan anak
e.       Memiliki hubungan sisitematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kreatifitas, belajar bahsa, perkembanngan sosial dan sebagainya.
Bermain, jika di tinjau dari sumber kegembiraannya dibagi menjadi dua yaitu, bermain aktif dan bermain pasif. Sedangkan jika di tinjau dari aktifitasnya, bermain dapat di bagi menjadi empat yaitu bermain fisik, bermain kreatif, bermain imajinatif, dan bermain manipulatif. Jenis bermain tersebut juga merupakan ciri bermain pada anak usia pra seukolah dengan menekankan permainan dengan alat (balok, bola, dan sebagainya) dan drama.
2.      Pengertian kreatifitas
Istilah kreatif secara tunggal didefinisikan sebagai (1) memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, (2) bersifat (mengundang) daya cipta. Berdasarkan dimensi dari sudut bahasa tersebut, istilah kreatif merujuk pada kemapauan seseorang untuk menciptakan suatu karya dan seseorang yang sudah memiliki daya cipta untuk menciptakan suatu karya. Kreatif dapat di maksudkan menjadi berfikir untuk mencipta (creativemind) dimilki oleh banyak orang terkenal yang selalu leluasa bereksplorasi di ranah konvergen dan divergen. Kreatifitas merupakan aktualisasi diri dalam berbagai sisi terkait dengan kecerdasan. Kretaifitas di gambarkan sebagai bentuk kegiatan imajinasi yang di tampilkan sebagai sesuatu yang orisinil yang memberi manfaat dan bernilai. Kegiatan kreatif bermula dari kegiatan imajinatif yang bermesinkan pemikiran tentang kemungkinan- kemungkingan.
Mengutip pernyataan Mayesti, bagi seorang anak, bermain adalah kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari karena bagi anak bermian adalah hidup dan hidup adalah bermain, oleh sebab itu seorang pemerhati anak sekaligus penulis buku Yuliani Nurani Sujino mencoba mengebangankan sebuah permainan kreatif yang di peruntukan dalam mengembangkan kkurikulum PAUD, peneliti ini mencoba menerapkan konsep belajar bermain kreatif yang di kembangkan oleh Sujino untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan dan berhitung permulaan di mana belajar ini benar-benar memberikan kesempatan anak berman sambil berkreasi karena oleh Docket dan Fleer berpendapata bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan diringya. Dari teori inilah para peneliti beramsumsi bahwa mengembangkan kemampuan membaca dan berhitung anak dapat di kembangkan dengan konsep belajar dengan bermain kreatif.
B.     Model Pembelajaran Kreatif
Konsep mengenai model kreatif di Pendidikan Anak Usia Dini erat kaitannya dengan konsep bermain. Makna pembelajaran kreatif erat kaitannya dengan pemikiran Jean Piaget mengenai cognitive-gevelopment perspective, fokus pada bagaimana anak berfikir dan bagaimana pemikiran mempengaruhi perkembangan mereka. Piaget percaya bahwa anak-anak dapat tumbuh secara alamiah untuk menjelajah dunianya. Pemikiran tersebut sesuai dengan istilah kreatif yang berarti menciptakan. Piaget berpandangan bahwa anka-anak dapat menciptakan suatu karya secara alamiah, dan proses kretaif tersebut dapat di tumbuhkan melalui pembelajaran-pembelajaran yang alamiah. Pandangan sosial, yakni proses belajar anak-anak tidak dapat terlepas dari aksi (aktifitas) dan interaksi, karna persepsi dan aktifitas berjalan seiring dengan adanya komunikasi mengenai pembelajaran kretaif juga di smapaikan oleh Vygotsky melalui teori contextual perspektive, yakni anak-anak dapat belajar dan berkembang melalui interaksi budayanya yang di turunkan oleh peran orang tua atau peran orang lain dewasa lainnya. Yang dimaksud dengan intraksi tersebut, adalah anak-anak tidak lepas dari konteks.
Belajar kreatif menurut pandangan Vygotsky adalah adanya aktifitas, interaksi dan komunikasi antara anak dengan lingkungannya sebagai konteks sosial.
C.    Ciri Khas Model Pembelajaran Kreatif
Berikut ini adalah ciri khas model pembelajaran kreatif yang kemudian dapat dioperasionalkan menjadi indikator, diantaranya:
1.      Kegiatan pembelajaran yang imajinatif, seperti mendongeng dan bermain drama
2.      Kegiatan pembelajaran yang mengasah kemampuan berpikir anak, seperti mengenali berbagai bunyi yang pernah didengar, menyebutkan hari-hari dalam satu minggu.
3.      Kegiatan pembelajaran yang menciptakan berbagai kemungkinan-kemungkinan dari suatu permasalahan.
4.      Kegiatan pembelajaran yang mengasah kemampuan bertanya anak, seperti guru bercerita tentang binatang purbakala.
5.      Kegiatan pembelajaran yang seperti bermain, seperti menendang bola, bermain peran.
6.      Kegiatan pembelajaran yang melibatkan interaksi sosial, seperti kerja kelompok.
7.      Kegiatan pembelajaran yang bertahap sesuai kemampuan anak, seperti untuk kelompok anak usia 2 tahun yang sudah dapat berjalan dengan lancar, rencana pembelajaran yang berisi latihan berdiri tentunya tidak menantang anak untuk berkembang lebih lanjut. Sebaliknya untuk kelompok anak tersebut yang belum mengenal warna, kegiatan untuk membuat pola warna tidak akan dapat dicapai anak.
8.      Kegiatan pembelajaran yang menghasilkan produk baru, seperti tari kreasi untuk anak usia dini.
9.      Kegiatan pembelajaran yang aktif.
10.  Kegiatan pembelajaran yang membuat anak berani.

D. Tata Ruang Atau Area Bermain Kreatif
Tata runag atau area bermain kreatif ini dilandasi oleh teori Piaget dengan pendekatan konstruktivisme yang berpusat pada anak. Ruang-ruang ditata sedemikian rupa dengan sangat selektif. Berikut ini terdapat area berdasarkan minat anak, diantaranya :
1.      Permainan Balok
Pusat permainan balok dipenuhi berbagai macam balok dalam berbagai macam bentuk dan ukuran untuk menciptakan berbagai bentuk bangunan, kota, pertanian, kebun binatang dan lain-lainnya secara imajinatif. Melalui kegiatan 14 bermain balok, anak dapat mengembangkan logika matematika, kemampuan berfikir dan memecahkan masalah, kreativitas serta daya konsentrasi. Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya Balok kayu, Balok plastik, Lassy, Mobil mainan.
2.      Drama peran
Pusat drama dapat membantu anak untuk lebih mengenal kehidupan mereka. Pada pusat ini, dapat disediakan benda-benda yang dapat mendorong anak untuk memperagakan apa yang mereka lihat di kehidupan mereka. Material 13 yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya Baju-baju, Cermin, Berbagai jenis boneka, Alat permainan memasak, Mobil-mobilan, Telepon.
3.      Memasak
Pusat memasak memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami proses dan reaksi ilmiah, mencicipi makanan-makanan baru, menyantap makanan yang mereka buat, memahami konsep matematika  seperti menimbang. Kegiatan memasak juga memberikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi, belajar berbagi, dan bejkerja sama. Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya Peralatan makan (piring, sendok, garpu, pisau), Perlatan memasak (kompor, panci, wajan).
4.      Pasir dan air
Wilayah ini menawarkan banyak kesempatan kepada anak untuk menggunakan panca indera mereka dengan cara mengeksplorasi bahan-bahan alami. Melalui kegiatan itu, anak dapat berfikir dan berkomunikasi. Mereka dapat melatih otot halus dan kasar. Di sini dapat dikembangkan konsep matematika, gagasan ilmiah serta kreativitas. Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya pasir laut, Bak pasir, Bak air, Mainan pasir, Perahu mainan Gayung, Teko, Gelas ukuran botol, Pipa dll.
5.      Kesenian
Pusat kesenian mendorong anak-anak untuk mengembangkan dan mengeksplorasi kreativitas mereka serta bersenang-senang dengan bahan-bahan baru dan pengalaman fisik. Pusat seni dapat memacu kreativitas, komunikasi verbal dan non verbal, percaya diri, perkembangan motorik halus dan kasar serta kemampuan inteklektual. Material yang terdapat pada pusat kegiatan ini diantaranya Kertas, Buku gambar, Cat air/cat poster, Krayon, Pensil warna, Spidol, Roncean.
E.      Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Bermain Kreatif
1.      Manfaat model pembelajaran berain kreatif Dengan bermain dapat membantu anak dalam mengembangkan banyak aspek fundamental dari perkembangan anak, baik fisik, intelektual, sosial dan emosional.
a.       Bermain dapat mengembangkan otot-otot disaat anak melakukan kegiatan fisiknya.
b.      Bermain dapat mengembangkan keterampilan intelektual disaat anak terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang menuntut pikirannya.
c.       Bermain dapat megembangkan keterampilan sosial disaat sejumlah anak terlibat aktif dalam suatu interaksi dengan orang lain.
d.      Bermain dapat mengembangkan aspek emosi disaat anak belajar mengendalikan emosinya. 

2.      Tujuan pembelajaran bermain kreatif
Berikut adalah tujuan adanya pembelajaran bermain kreatif diantaranya:
a.       Memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak.
b.      Memberikan anak kesenangan dan kepuasana diri yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya.
c.       Memerikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untu merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu denga cara-cara baru
d.      Berikan kesempatan pada anak untuk berfikir, bertindak imajinatif, dan penuh daya khayalan.
Referensi
Djoehaeni, Heny. Pengembangan Potensi Anak Usia Dini melalui Penerapan Kelas yang Berpusat pada Anak. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197007241998022-HENY_DJOEHAENI/JURNAL-PENDEKATAN_KELAS_BERPUSAT_PADA_ANAK.pdf
Jakar Is, M., etc. Konsep Belajar Dengan Bermain Kreatif Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Berhitung Permulaan Pada Anak Usia Dini, Lentera : Vol. 14, No. 1, Januari 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar